"Peningkatan serangan berbahaya dari gerakan Houthi terjadi karena adanya dukungan Iran," kata juru bicara sekutu Kolonel Turki al-Maliki dalam pertemuan pers yang disiarkan televisi setempat. Kendaraan berpeluncur roket yang digunakan untuk menembakkan peluru kendali itu dibuat di Iran, tambahnya.
Arab Saudi dan sekutu-sekutunya menuduh musuh bebuyutan mereka, Iran, memasok peluru kendali dan senjata lainnya kepada Houthi, dengan mengatakan bahwa senjata tersebut tidak ditemukan di Yaman sebelum perang dimulai pada 2015. Iran membantah tuduhan tersebut dan menyalahkan perang terjadi akibat Riyadh.
Perang sipil Yaman melibatkan pemerintah yang diakui secara internasional, dengan dukungan Arab Saudi dan sekutunya, melawan gerakan Houthi dan pasukan yang setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh.
Perang tersebut telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan mengakibatkan jutaan orang mengungsi, dan menyebabkan sekitar 500.000 penderita kolera di negara tersebut sejak wabah terburuk dalam beberapa dasawarsa itu dimulai pada April.
Pernyataan sekutu pimpinan Arab Saudi pada Minggu, 5 November menggemakan tuduhan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang mengatakan bahwa peluru kendali tersebut baru saja ditembakkan oleh Iran terhadap Arab Saudi. Kepala Korps Garda Revolusioner Iran menyebut keterangan Trump tersebut sebagai fitnah.