nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tak Usung Calon dari Kader di Pilkada, Bukti Kaderisasi Parpol Masih Lemah

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Rabu 08 November 2017 17:37 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 08 337 1810723 tak-usung-calon-dari-kader-di-pilkada-bukti-kaderisasi-parpol-masih-lemah-1Eu42dFzlK.jpg Diskusi publik (Foto: Okezone)

JAKARTA - Belakangan ini semakin marak partai politik yang mengusung calon untuk bertarung dalam Pilkada Serentak 2018 bukan berasal dari kadernya. Hal ini pun menjadi fenomena menarik menjelang ajang pemilihan kepala daerah tersebut.

Pengamat politik asal Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK), Arif Susanto menilai fenomena pengusungan non kader dalam Pilkada ini mulai tampak dalam perhelatan Pilgub DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Ia mengutarakan bahwa dari tiga pasangan calon (paslon) yang mengikuti Pilgub DKI Jakarta hanya Djarot Saeful Hidayat yang merupakan kader asli partai, yaitu PDIP.

"Ini menjadi hal yang menarik, jelas ini menandakan lemahnya kaderisasi politik di dalam parpol," kata Arif dalam sebuah diskusi publik di D hotel, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (8/11/2017).

Tidak hanya Pilkada DKI, Arif juga melihat lemahnya kaderisasi parpol kembali terjadi di Pilkada Jatim, dimana saat ini terdapat dua nama menjadi kandidat Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan Saefullah Yusuf (Gus Ipul). Arif melihat kedua calon tersebut lebih pantas sebagai kader dari NU bukanlah kader partai politik.

"Keduanya lebih pantas disebut kader NU yang ironisnya justru memperebutkan suara warga NU pada Pilgub Jawa Timur mendatang," terangnya.

Selain itu, lanjut Arif, lemahnya kaderisasi parpol juga terlihat dalam Pilkada Jawa Barat. Seperti Partai Golkar yang lebih memilih mengusung Ridwan Kamil dibandingkan mengusung bupati Purwakarta yang merupakan kadernya yakni Dedi Mulyadi.

"Di Jawa barat juga sama, itu menunjukkan lemahnya kaderisasi politik. Kenapa? Pragmatisme untuk meraih kemenangan ini melampaui ideologi partai. Partai-partai yang berbasis agama bisa berseteru atau bersekutu dengan parpol yang berbasis non agama. Jadi memang pragmatisme lebih menonjol," ucapnya.

(muf)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini