PADA zaman Mesir Kuno, terdapat sistem keyakinan politeistik yang sangat kompleks yang mencakup mitologi yang rumit dan sejumlah besar dewa. Banyak dewa diwakili sebagai binatang, seperti dewa penguburan Anubis digambarkan sebagai serigala; Hathor, dewi kesuburan, sering digambarkan sebagai seekor sapi; dan Horus, dewa langit dan kerajaan dan salah satu dewa Mesir kuno, biasanya digambarkan berupa elang.
Kucing adalah binatang yang paling disukai bangsa Mesir kuno. Mereka dianggap sakral sebagai perwujudan dewi Bastet, yang mewakili perlindungan, keibuan, dan kesuburan. Kucing-kucing yang berada di tempat tinggal biasa ditemukan di rumah-rumah di seluruh kerajaan. Bahkan, kucing dianggap sebagai simbol kekayaan, status, dan anugerah. Orang-orang biasa memuji kemampuan kucing yang dapat membunuh ular berbisa dan mencegah hama lumbung. Menyakiti seekor kucing dianggap sebagai pelanggaran serius, bahkan bisa dihukum mati.
Sejumlah kucing Mesir kuno yang mati dimakamkan layaknya manusia dan dikubur bersama dengan berbagai perhiasan. Bahkan banyak kucing yang dijadikan mumi lalu dipajang di berbagai tempat suci. Namun, beberapa pengusaha kejam dan licik memanfaatkan fakta kesucian kucing. Mereka mengembangbiakkan kucing hanya untuk dibunuh lalu dijual kepada siapa saja yang ingin menghiasi tempat suci mereka dengan mumi kucing.
Dilansir dari The Vintage News, Jumat (17/11/2017), bisnis licik tersebut adalah latar belakang adanya kuburan kucing massal terbesar yang pernah ditemukan. Pada 1888, seorang petani menggali sumur di padang pasir di luar kota Beni Hasan, beberapa puluh kilometer dari ibu kota Mesir, Kairo. Saat itu, daerah sekitar Beni Hasan terkenal karena terdapat makam bangsawan Mesir kuno, termasuk makam Amenemhat yang merupakan imam besar pada masa pemerintahan Firaun Senusret I pada abad ke-20 SM. Meski begitu, petani tersebut tidak menyangka penggalian tersebut membawanya ke makam bawah tanah tersembunyi yang berisi 80 ribu mumi kucing.
Penemuan petani tersebut segera menarik sejumlah penduduk setempat yang membanjiri area itu untuk mencari barang berharga. Mereka tidak menemukan apa-apa kecuali sarkofagus perunggu seukuran kucing dan beberapa perhiasan. Mereka mulai menjual mumi kucing itu kepada siapa pun yang hendak membelinya. Karena mumi kucing ini dianggap tidak berharga saat itu, kebanyakan dijual dengan harga sangat rendah. Beberapa dijual ke orang-orang di seluruh Mesir yang menyimpannya sebagai suvenir dan sejumlah besar dijual ke kontraktor lokal yang menurut laporan menggunakannya untuk membuat pupuk dan cat.
Sebanyak sembilan ton mumi kucing lalu diserahkan ke Liverpool, di mana mereka dijual di dua lelang yang diselenggarakan oleh sebuah rumah lelang bernama Gordon and Co. Dalam pelelangan kedua, juru lelang tersebut dilaporkan menggunakan tengkorak kucing sebagai palu lelangnya. Karena banyak anggota kelas atas Inggris pada masa itu menghargai nilai warisan budaya Mesir kuno yang luar biasa, sebagian besar mumi kucing dibeli oleh ahli sejarah Mesir, kolektor barang antik, dan perwakilan berbagai museum. Satu ton mumi kucing tetap bisa dibeli dengan harga sangat rendah yaitu 17 poundsterling.
Analisis sinar-X dari sejumlah mumi kucing dilakukan pada paruh kedua abad ke-20. Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar kucing berusia kurang dari satu tahun ketika mereka meninggal dan kemungkinan besar mereka sengaja dibunuh dengan pukulan di kepala. Hal tersebut menunjukkan bahwa kucing yang malang itu mungkin adalah bagian dari bisnis licik pedagang mumi untuk mendapatkan uang dari pemujaan kucing.
(pai)
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.