JAKARTA - Poros koalisi partai pendukung bakal calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang terdiri dari Partai Demokrat, NasDem, Golkar, Hanura dan PPP resmi menunjuk Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak sebagai bakal calon wakil gubernur.
Ketua Tim 9 Pemenangan Khofifah, KH Salahuddin Wahid mengungkapkan, ada sejumlah alasan yang mendasari pemilihan Emil. Di antaranya, pria 33 tahun itu merupakan salah satu potensi pemimpin muda di Indonesia yang memiliki kualitas baik.
"Banyak faktor [...] Dia (Emil) anak muda yang bagus ya. Kita perlu anak yang muda," kata Gus Sholah, sapaan akrab Salahuddin Wahid.
Gus Sholah yakin, duet Khofifah-Emil sanggup mengalahkan pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Abdullah Azwar Anas yang didukung PDI Perjuangan dan PKB. "Kita harapkan begitu, tapi itu harus kerja keras," kata Gus Sholah.
Terkait itu, Okezone ajak anda mengenal lebih dekat sosok Emil Dardak.
Dari Kota Masuk Desa
Emil dikenal sebagai putra dari Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum era pemerintahan SBY yang kini menjabat sebagai Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2015-2018.
Suami dari pesinetron Arumi Bachsin ini lahir di Jakarta pada 20 Mei 1984. Dari pernikahannya, Emil dan Arumi dikaruniai dua orang anak, yakni seorang putri bernama Lakeisha Ariestia Dardak dan Alkeinan Mahsyir Putro Dardak.
Sejak menjabat bupati pada tanggal 17 Februari 2016, Emil yang didampingi wakilnya, Mochamad Nur Arifin langsung menyita perhatian banyak pihak. Saat itu, keduanya menasbihkan diri sebagai pemimpin daerah termuda di Indonesia.
Emil kemudian membawa sang istri, Arumi ke Trenggalek, meninggalkan hiruk pikuk dunia hiburan di ibu kota. Kini, Sebagai istri bupati, kini Arumi banyak melibatkan diri dalam berbagai agenda dan kegiatan guna mendukung banyak program kerja Pemkab Trenggalek.
Dari ranah pendidikan formal, Emil mencatatkan berbagai capaian cemerlang. Pada tahun 2001, ketika berusia 17 tahun, Emil memperoleh gelar diploma dari Melbourne Institute of Business and Technology. Emil kemudian meneruskan pendidikan S1 di Universitas New South Wales, Australia. Sedangkan gelar S2 dan S3 Emil didapat setelah dirinya menjalani pendidikan di Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang.
Sebelum terjun ke dunia politik, Emil dikenal sebagai seorang profesional muda yang sukses. Di tahun 2001 hingga 2003, Emil menjadi World Bank Officer di Jakarta dan Media Analysis Consultant di Ogilvy. Puncak karier Emil dicapai saat dirinya didaulat menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President (VP) di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero).
Meninggalkan Gaji Fantastis Demi Pengabdian di Trenggalek
Maka, ketika dirinya memutuskan terjun ke dunia politik untuk mengabdi di Trenggalek, sejumlah pihak mempertanyakan keputusannya. Bagaimana tidak, Emil kala itu harus meninggalkan gaji lebih dari Rp 100 juta sebagai seorang direktur BUMN untuk gaji Rp 6 juta sebagai bupati.
"Iya, sekitar segitu (Rp 6 juta). Ya itu (gaji VP BUMN) lebih besar sepuluh kali lipat mungkin ya," kata Emil dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi swasta.
"Sekitar segitulah (Rp 100 juta). Tapi tidak perlu dibahas terlalu jauhlah," sambung Emil.
Ketika langkahnya dipertanyakan oleh orang-orang terdekatnya, pada saat yang sama, langkah Emil pada Pilkada Trenggalek tahun 2015 pun dipertanyakan. Bahkan, banyak pihak yang meragukan kapabilitas Emil sebagai pemimpin daerah kala itu. Namun, Emil dan Nur Arifin tetap berhasil memenangi pilkada dengan perolehan suara sebanyak 292.248 atau 76,28 persen.
“Waktu pilkada saya dianggap orang luar, identik dengan orang kota, orang urban, sehingga banyak yang khawatir saya akan menghapus nilai-nilai masyarakat yang baik di Trenggalek. Karena itu, ketika saya datang, Trenggalek saya ibaratkan kertas putih. Artinya, masyarakat masih punya nilai-nilai luhur sebagai aset bagi kemajuan,” ungkap Emil mengisahkan pengalamannya bertarung di pilkada pertamanya.
Kualitas Kepemimpinan
Memimpin lebih dari 800 ribu jiwa di sebuah wilayah yang memiliki luas dua kali lipat dari ibu kota, berbagai pembenahan dilakukan Emil.
Pada sektor pelayanan publik, Emil berhasil menciptakan pelayanan kemiskinan yang berbasis musyawarah desa. Didasari hasil musyawarah tersebut, nantinya akan ditentukan kelompok-kelompok masyarakat yang berhak mendapatkan bantuan.
Atas pelayanan tersebut, konsultan marketing terkemuka MarkPlus, Inc mengganjar Trenggalek dengan penghargaan WOW Public Services Excellence Award Jawa Timur 2017 bersama Kabupaten Ngawi, Kabupaten Malang dan Kota Malang.
Untuk pelayanan kesehatan, Emil juga berhasil mencatatkan prestasi gemilang. Di bawah kepemimpinannya, Trenggalek berhasil memperoleh akreditasi tertinggi dalam hal layanan dan fasilitas kesehatan.
“Untuk pelayanan rumah sakit kami mencapai akreditasi tertinggi, bintang lima atau paripurna," kata Emil.
Selain itu, Emil juga berhasil mendobrak batas isolasi yang sebelumnya dialami Trenggalek. Dengan memperbaiki infrastruktur jalan, Emil berhasil menyambung kembali akses Trenggalek dengan sejumlah wilayah di sekitarnya.
"Selain itu kami sudah meningkatkan keandalan jalan ke salah satu kecamatan paling jauh dan paling sulit yaitu Munjungan. Sekarang jalannya sudah sangat baik dan terus kami mantapkan,” terang Emil.
Tak hanya membuka akses, Emil juga berhasil menarik wisatawan masuk ke Trenggalek lewat sejumlah pembenahan yang ia lakukan. Selain mempromosikan karunia alam berupa pantai-pantai indah, Emil juga membangun hutan-hutan Trenggalek sebagai kawasan ekowisata hutan.
Tak hanya itu, Emil juga berhasil memanfaatkan berbagai potensi kehutanan Trenggalek, misalnya mengangkat minyak asiri yang berbahan baku nilam dan cengkih yang menjadi salah satu komoditas Trenggalek. Kesuksesan Emil mengangkat minyak asiri pun menjadikan Trenggalek sebagai sentra rujukan riset minyak asiri di Indonesia.
“Kami bekerja sama dengan Institut Atsiri (Universitas Brawijaya, Malang) untuk menjadikan Trenggalek sebagai science and techno park for essential oil di Indonesia,” papar Emil.
Trenggalek, Terdepan di Pesisir Selatan Pulau Jawa
Emil bersyukur, selama kepemimpinannya, ia berhasil membawa Trenggalek maju sebagai daerah terdepar di pesisir selatan Jawa. Konsep pembangunan Trenggalek telah menjadi contoh di tingkat provinsi dan nasional.
“Selama ini Trenggalek dianggap jauh dari Surabaya, jauh dari Solo. Ditambah medan pegunungan yang berat. Alhamdulillah dengan segala sinergi yang saya bangun bersama kolega di sini, Trenggalek menjadi yang terdepan di pesisir selatan. Konsep pembangunan selatan ini mulai menggaung. Bukan hanya di Trenggalek, tapi juga di tingkat provinsi, bahkan tingkat nasional,” ungkap Emil.
Menurut Emil, membangun tata kelola pemerintahan adalah kunci utama yang pertama kali harus dilakukan untuk mengeksekusi segala bentuk pembangunan.
“Inovasi-inovasi pembangunan akan sulit manakala dalam laporan keuangan Trenggalek ada catatan negatif. Dengan kerja keras tim, kami berhasil menghilangkan catatan itu. Sekarang Trenggalek sudah masuk rencana induk pelabuhan nasional,” sambung Emil Dardak.
Selain itu, Emil mengatakan, mental kuat dari seorang pemimpin sangat penting dalam pembangunan. Berbagai tantangan, dikatakan Emil pasti akan dihadapi oleh setiap pemimpin. Di situlah, mental dan tekad yang kuat harus disinergikan dengan niat yang luhur.
“Menjadi seorang pemimpin, ya harus kuat mental [...] Saya mencoba lebih legawa. Saya pasrah, jalan saya ke depan masih di dunia politik atau tidak. Sekarang saya fokus kerja saja, mencetak prestasi sebaik-baiknya dan menjalankan tugas ini dengan profesional,” katanya.
(ydp)
(Amril Amarullah (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.