TANGERANG SELATAN - Nasib memilukan dialami Radi (97). Setelah kakinya lumpuh sejak 8 bulan lalu, kakek itu hanya bisa terbaring di gubuk reotnya di Jalan Kampung Rawa Barat, RT02 RW16, Nomor 22, Pondok Pucung, Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel).
Di bangunan kayu berukuran 4 meter persegi itu, kakek Radi tinggal bersama istrinya Tini yang juga tak muda lagi, berusia 77 tahun. Meski sama-sama berusia sepuh, istrinya tetap tak menyerah mencari nafkah dengan berdagang kopi dan mi rebus, untuk biaya hidup bersama suami.
“Dulu bapak kerjanya tukang sampah, terus setelah lumpuh ya udah enggak bisa ngapa-ngapain. Jadi terpaksa nenek yang jualan kopi sama mi," tutur Tini saat ditemui di gubuknya, Jumat (24/11/2017).
Tini berkisah awal mula petaka menimpa suaminya. "Dulu awalnya jatuh ke got, terus habis itu kakinya nggak bisa jalan, ngerasa sakit. Lama-lama lumpuh, kejadiannya sudah 8 bulan lalu,” ujarnya.
“Sekarang kalau buang air ya didalam kamar aja pakai ember, nanti dibersihin," tutur Tini.
Kakek Radi sebelumnya bekerja sebagai tukang pemungut sampah di lingkungan RT 02, dengan upah hanya Rp100 ribu tiap bulan.
Radi dan Tini tak dikaruniai keturunan sejak menikah pada 1970-an. Kini mereka telah memiliki 3 orang cucu, hasil perkawinan dari anak angkat perempuannya yang bernama Ratih (44).