AWAL abad ke-14, kepercayaan masyarakat terhadap iblis yang bisa memberi manusia kekuatan sihir meningkat. Akibatnya, ketakutan terhadap ilmu gaib menyebar di seluruh Eropa. Abad berikutnya muncul kegemaran berburu penyihir dan menyebabkan banyak nyawa terenggut.
Korban yang dicurigai sebagai penyihir akan digantung, dipenggal, dan yang paling kejam adalah dibakar hidup-hidup. Seringkali eksekusi dilakukan di depan khalayak. Mereka percaya, membakar mayat korban akan menghilangkan kutukan setelah kematian mereka.
Takhayul ini menyebar ke seluruh dunia dengan cepat. Negara-negara penjajah menularkan kepercayaan ini kepada wilayah jajahannya. Di Koloni New England, cerita tentang sihir ini paling kuat terasa, khususnya di Salem Village yang kini bernama Danvers, di Massachusetts.
Pada abad ke 17, warga Salem Village menjalani kehidupan penuh tantangan. Utamanya karena terpengaruh Perang Inggris-Prancis di segenap koloni Amerika pada 1689. Belum lagi warga juga resah karena wabah cacar yang merebak. Sepanjang periode ini pula, ada persaingan keras antara desa tersebut dengan wilayah yang lebih sejahtera, Kota Salem. Ditambah lagi ketakutan akan diserang berbagai suku penduduk asli dari Amerika.
Sebuah pengadilan untuk para penyihir Salem digelar pada pertengahan 1692 setelah beberapa gadis lokal mengaku memiliki kekuatan sihir. Perempuan yang mengklaim hal serupa pun kian banyak. Bahkan histeria fenomena ini menyebar amat cepat ke penjuru Massachusetts hingga otoritas memutuskan membuat pengadilan khusus di Salem untuk sesi dengar pendapat dan penyelidikan.