SUKU Indian Yahi merupakan salah satu kelompok penduduk asli Amerika yang hidup di wilayah Deer Creek, California. Mereka hidup terisolasi dari dunia luar dengan jumlah tak lebih dari 400 orang. Orang-orang Yahi bertahan hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan. Berdasarkan keterangan orang-orang Yana, suku Yahi hidup dengan damai tanpa penguasa dan menganggap semua orang memiliki kedudukan yang setara.
Keadaan berubah saat fenomena “The Gold Rush” melanda Amerika. Lebih dari 300 ribu orang Amerika datang ke California untuk berburu logam mulia. Suku Yahi menjadi korban yang paling merasakan dampak fenomena tersebut. Wilayah mereka terancam oleh para pendatang dan konflik perebutan wilayah tak terhindarkan. Suku Yahi melakukan perlawanan untuk mempertahankan tempat tinggal mereka, namun pasukan dan senjata mereka tak cukup banyak dan canggih untuk melawan. Banyak anggota suku Yahi tewas hingga jumlahnya kurang dari 100 orang.
Kedatangan orang-orang kulit putih itu membuat suku Yahi kehilangan tempat berburu. Sungai-sungai dialihfungsikan sebagai tempat mendulang emas dan jumlah rusa di hutan semakin berkurang. Akhirnya dalam jangka 15 tahun, para pendatang berhasil menggusur semua anggota suku Yahi dari tempat tinggalnya.
Tersingkir, mereka bersembunyi di pegunungan selama bertahun-tahun dan tak pernah muncul kembali ke peradaban. Hingga pada 29 Agustus 1911 seorang anggota suku muncul ke peradaban modern. Usianya paruh baya dan ditemukan sedang mencari makanan di kota. Ia tak menyebutkan namanya saat ditanya para petugas yang menangkapnya. Sesuai tradisi suku Yahi, ia tak akan memberitahukan namanya kepada musuh.
Pria itu ditahan dan dibawa ke Universitas California di San Fransisco. Seorang antropolog universitas, Alfred Kroeber dan Thomas Waterman memanggilnya ‘Ishi’, yang dalam bahasa Yana berarti ‘laki-laki’. Seiring berlalunya waktu pria itu menerima nama tersebut.
Alfred memberinya sebuah apartemen di dekat museum universitas dan Ishi tinggal di sana sampai akhir hidupnya. Seiring berjalannya waktu, Ishi berhasil mempelajari 600 kata dalam bahasa Inggris dalam waktu beberapa tahun. Ia mengajari antropolog tentang budaya sukunya dan bahasa Yana.
Pada 1865 orang-orang kulit putih melakukan pembantaian terhadap suku Yahi dan menyebabkan kematian 40 anggota klan. Ishi dan anggota suku lainnya melarikan diri ke gurun. Tak lama kemudian, 33 orang anggota suku Yahi ditembak mati. Ishi dan kerabatnya bersembunyi selama 44 tahun sampai sekelompok surveyor menemukan kamp mereka pada 1908. Ishi dan kerabatnya berhasil melarikan diri, namun ibunya yang sakit tetap tinggal di tenda dan meninggal sesaat setelah ia kembali. Kerabatnya tak kembali dan ia tinggal sendirian dan selama tiga tahun mengembara untuk mencari makanan di hutan. Ishi yang putus asa dan kelaparan akhirnya menampakkan dirinya ke kota.
Ishi dipekerjakan di museum, ia menjadi objek museum itu sendiri. Kepada anak-anak, ia memperlihatkan keterampilannya membuat busur dan panah. Seiring berjalannya waktu, Ishi dan para pekerja museum menjadi teman.
Ishi hanya lima tahun menjadi bagian dari masyarakat modern dan membaur bersama orang-orang kulit putih. Terbiasa hidup di tempat terpencil dan alami, Ishi menjadi rentan terserang virus dan penyakit yang berkembang di masyarakat modern. Pada 25 Maret 1916, ia meninggal akibat mengidap tuberkulosis dan tubuhnya dikirim untuk diotopsi. Teman-temannya berusaha mencegah otopsi tersebut agar ia dimakamkan sesuai tradisi masyarakat Yahi, namun usaha mereka sia-sia.
Para dokter Universitas California memisahkan otak Ishi untuk diteliti sebelum tubuhnya dikremasi. Sebagian abu anggota terakhir suku Indian Yahi itu dikuburkan di pemakaman Bukit Olivet di dekat San Fransisko. Otak Ishi dikirim ke Smithsonian Institution di Washington oleh Alfred Kroeber sampai 10 Agustus 2000. Kemudian, otak itu diberikan ke suku Pit River yang menguburkan otak dan abu Ishi di lokasi rahasia di wilayah Deer Creek. (Griska Laras/Magang).
(pai)
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.