nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penolakan Bandara NYIA, Budayawan: Silakan Demo asal Tak Menghambat

Agregasi Antara, Jurnalis · Rabu 13 Desember 2017 11:38 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 12 13 510 1829588 penolakan-bandara-nyia-budayawan-silakan-demo-asal-tak-menghambat-3I6EwtIrED.jpg ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)

YOGYAKARTA - Budayawan sekaligus seniman asal Yogyakarta A Hajar Wisnu Satoto menilai keberadaan bandara bukti kemajuan sebuah kota maupun daerah tertentu. Sehingga pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) menurutnya sudah selayaknya dilakukan secepatnya, mengingat kepadatan jam terbang pesawat yang luar biasa di Kota Gudeg.

Terlebih Yogyakarta merupakan kota yang kerap dilirik wisatawan baik domestik maupun dari mancanegara. Tak heran, bila mana bandara itu nanti selesai akan membawa dampak positif bagi Yogyakarta.

"Masalah penghambat proses pembangunan bandara yang dilakukan kawan-kawan demonstran ini bila tanpa ada yang menunggangi unsur politik ya yang positif saja, mereka juga mempunyai hak yang beralasan. Tapi bila masalahnya hingga menghentikan atau menghambat pembangunan kok ya menurut saya kurang pas," kata pria yang akrab disapa Totok ini, Selasa 12 Desember 2017.

Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) ini melihat demo yang dilakukan mahasiswa saat ini kurang pas. Terlebih, saat ini bukan jamannya lagi melakukan aksi protes dengan cara demo di jalanan, apalagi menghambat akses masyarakat dalam memanfaatkan jalan.

"Kalau boleh jujur, demo di jalanan saat ini menganggu lalu lintas. Sudah tidak zamannya lagi bakar-bakaran ban, teriak-teriak di jalanan. Banyak cara lebih arif dan bijak dalam menyampaikan keluhan, protes, atau tidak sepakat dengan kebijakan," kata pendiri Padepokan Sekar Djagat di Prambanan ini.

Artinya, kata dia, negara saat ini sudah sangat demokratis untuk menyampaikan pendapat. Segala permasalahan bisa disampaikan melalui dialog agar menemukan mufakat. Jadi, menurutnya alangkah lebih bijak jika mahasiswa menempuh jalan diplomasi dibanding aksi demo.

"Mbok yo dirembug (sebaiknya dibicarakan-red), dengan siapa, ya yang berkepentingan. Masak dengan saya," tuturnya.

Sementara, Sosiolog Fisipol UGM Arie Sudjito menilai aksi bentrok penolakan pembangunan bandara NYIA hingga kekerasan yang terjadi dinilai bukan zamannya lagi dan malah akan menciptakan konflik baru.

"Respons mahasiswa terhadap isu di sekelilingnya sudah sejak dulu, sesuai idealisme mereka, tapi sekarang caranya bukan dengan kekerasan tapi dialog," ujar Arie terpisah.

Ia menambahkan pada pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) saat ini sudah menciptakan ruang dialog secara persuasif. Ia pun meyakini Presiden Jokowi, Menteri Perhubungan Budi Karya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X maupun AP I sudah berkomitmen untuk menyejahterakan warganya dengan pembangunan NYIA.

"Mahasiswa itu harusnya mengajak masyarakat untuk duduk bareng, bukan malah diajak bentrok," tukasnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini