Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Remaja Penjarah Distro di Depok Disebut sebagai Korban Pola Asuh Keluarga

Apriyadi Hidayat , Jurnalis-Selasa, 26 Desember 2017 |14:21 WIB
Remaja Penjarah Distro di Depok Disebut sebagai Korban Pola Asuh Keluarga
Puluhan remaja pelaku penjarahan distro di Depok. (Foto: Apriyadi Hidayat/Okezone)
A
A
A

DEPOK – Aksi kejahatan jalanan yang melibatkan remaja sebagai pelakunya dinilai pengamat sosial budaya dari Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati, tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara global tren ini juga terjadi di negara-negara maju sekalipun.

Penyebabnya, kata dia, bisa beragam. Mulai kurangnya wadah berkegiatan bagi mereka hingga sistem dan pola asuh keluarga yang salah. Hal ini pula yang diduga terjadi kepada puluhan remaja yang nekat menjarah sebuah distro di Depok, Jawa Barat.

"Aktivitas ini diawali oleh kehadiran sekelompok orang yang memiliki komitmen untuk tergabung dalam sebuah kelompok yang difasilitasi dengan sumber daya transportasi kendaraan roda dua," ungkap Devie kepada Okezone, Selasa (26/12/2017).

Ia menambahkan, faktor terikatnya para individu tersebut secara umum ialah kebersamaan dan merasa nyaman serta nyaman dalam sebuah kelompok.

"Mereka adalah kumpulan orang yang membutuhkan kehangatan kelompok (belonging) dan merasa aman (security) di dalam sebuah kelompok. Yang memungkinkan hal tersebut terjadi ialah ketersediaan waktu untuk terus bersama-sama. Kondisi ini dapat disebabkan oleh mereka adalah anak-anak muda yang tidak memiliki banyak aktivitas lain selain sekolah, ataupun pemuda yang belum memiliki pekerjaan tetap. Sehingga, mereka dengan leluasa terus menjalin komunikasi dan secara intensif menyusun berbagai rencana aktivitas nonkriminal maupun kriminal," jelasnya.

(Baca: Tersangka Penjarahan Distro di Depok Bertambah Jadi 27 Remaja)

Devie menyatakan ada beberapa kemungkinan para remaja tersebut nekat bertindak demikian. Pertama, kurangnya ruang ekspresi di sekolah atau lingkungan masyarakat. Kedua, tidak memiliki aktivitas produktif. Ketiga, salahnya sistem pola asuh keluarga.

"Para remaja ini, menurut hemat saya, adalah korban dari sistem dan pola asuh keluarga. Mereka tidak sepenuhnya bersalah. Ekspresi yang ditunjukkan tidak muncul tiba-tiba. Ini adalah proses yang panjang untuk membentuk diri seorang anak," terangnya.

Pola asuh keluarga yang salah, menurut Devie, merupakan kontrol yang lemah dari orangtua. Hal ini terjadi karena pergeseran paradigma asuhan.

"Orangtua modern memiliki keyakinan baru bahwa kesuksesan orangtua adalah ketika mampu menjadi orangtua yang 'gaul' yaitu yang membebaskan anak-anaknya melakukan aktivitas apa pun tanpa batas," ungkapnya.

Paradigma ini, lanjut dia, didorong salah satunya keinginan untuk menjadi orangtua yang berbeda dari orangtua di masa lalu yang sangat disiplin.

"Obsesi orangtua agar anak anaknya mendapat pengakuan sebagai anak yang maju dan modern dengan melepaskan kendali kehidupan anak kepada anak masing-masing," pungkasnya.

(Hantoro)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement