ADA sebuah cerita rakyat tentang makhluk yang mengancam wilayah Arizona, Amerika Serikat, pada 1880-an. Makhluk itu bermata merah, setinggi 9 meter dan lebih dikenal sebagai Red Ghost (setan merah).
Makhluk itu kerap menyiksa sejumlah penduduk di sana. Dalam kisahnya, Red Ghost pernah menginjak-injak seorang wanita sampai meninggal dunia dan menghukum pria yang mencoba mengambil gambarnya.
"Setiap saksi mata mengatakan makhluk itu tampak jahat dan menunggangi seekor monster aneh," kata Marshall Trimble, seorang sejarawan negara Arizona, kepada majalah Smithsonian pada 2015.
Bertahun-tahun kemudian, seorang peternak menembak seekor unta yang sedang merumput di kebunnya. Di punggung unta yang mati, peternak menemukan tali pengikat milik setan merah itu hingga ia ditemukan tewas.
Tapi, bagaimana bisa ada unta di Arizona pada masa itu?
Perintah Amerika tentang Manifest Destiny menghadapi hambatan serius di barat daya pada pertengahan 1800-an. Saat itu, orang Amerika percaya, Amerika Serikat ditakdirkan memperluas wilayahnya sampai melintasi benua.
Namun hal itu harus terhenti karena manusia dan hewan di sana tidak bisa hidup di gurun, pegunungan terjal, dan udara dataran yang tipis. Menanggapi hal itu, seorang letnan tentara berpikiran berbeda. Ia mempelajari masalah tersebut dan mengirim laporan ke Washington dengan solusi cerdik yaitu membeli unta.
Unta yang bisa bertahan hidup di padang gurun dianggap sebagai solusi cerdas saat itu. Bahkan, Senator Mississippi, Jefferson Davis, yang sedang memulai perang Meksiko-Amerika, dengan penuh semangat mendorong gagasan tersebut, hingga dia menjadi Sekretaris Perang.
Meski butuh beberapa tahun, pada 3 Maret 1855, Kongres menetapkan anggaran USD30 ribu (setara Rp400 juta di masa kini) untuk pembelian unta. "Unta-unta itu dipekerjakan untuk tujuan militer," tulis perintah itu.
BACA JUGA: Unta di Amerika Hidup pada Zaman Prasejarah
Sejak saat itu, terbentuklah pasukan unta Amerika Serikat atau The U.S Camel Corps. Menurut Letnan Angkatan Darat, George H. Crosman, unta-unta itu mempunyai sejumlah kekuatan untuk meringankan beban.
"Unta-unta itu mampu bertahan saat minimnya makanan dan air. Dalam beberapa hal, unta juga memiliki kecepatan, sehingga tidak ada bandingannya dibanding hewan lain," kata Crosman dalam laporannya.
Adapun saat itu, unta-unta bertugas mengangkat beban hingga 900 pound (408 kilogram). Hewan gurun itu biasa melakukan perjalanan sampai 40 mil (16 kilometer) selama berhari-hari.
"Mereka akan pergi tanpa air dan dengan sedikit makanan selama enam atau delapan hari, atau bisa lebih lama lagi. Kaki mereka pun cocok untuk melintasi dataran berumput, berpasir, bukit-bukit, hingga jalan berbatu yang kasar. Mereka pun tidak memerlukan sepatu," katanya.
Namun ada satu masalah kecil untuk mewujudkan wacana itu, yakni unta tidak ada di Benua Amerika. Karena itu, Mayor Henry C Wayne, bersama penggemar unta lainnya melakukan perjalanan ke Timur Tengah. Mereka pergi ke Malta, Yunani, Turki, dan Mesir, dan berhasil mendapatkan 33 ekor unta seharga USD250 (Rp3,3 juta).
Unta-unta itu pun diangkut ke kapal-kapal Angkatan Laut AS yang dinamai USS Supply, untuk perjalanan ke Texas. Perjalanan itu menghabiskan waktu tiga bulan lamanya akibat cuaca yang mengerikan dan angin kencang.
Meski begitu, sebagian unta besar tetap terlihat sehat dan tidak mengalami luka-luka setelah sampai di lokasi. Hewan-hewan berpunuk itu perlu beberapa minggu untuk menyesuaikan diri. Karena itu, Wayne membawa mereka ke pedalaman ke Camp Verde, dekat San Antonio, Texas, tempat dia mendirikan sebuah kafilah. Enam bulan kemudian, satu rombongan unta lain tiba sehingga totalnya mencapai 70 ekor.
Beberapa bulan berlalu, Wayne telah melatih tentara dan warga sipil untuk menunggangi unta, merawat unta, hingga mengenakan pelana pada unta. Meski unta terkenal jinak, mereka tetap melakukannya dengan hati-hati. Mereka takut diludahi gumpalan besar air liur, digigit, hingga diinjak-injak. Bau busuk unta juga sangat tidak nyaman bagi mereka.
Pada 1857, Wayne mengirimkan unta-unta itu ke District of Columbia (DC). Di sana, Kogres telah mengontrak Letnan Edward F Beale untuk menyurvei rute Fort Defiance, New Mexico, ke California timur dengan menggunakan 25 ekor unta.
Awalnya Beale memprotes keputusan tersebut. Namun pada minggu kedua ekspedisi, unta-unta itu membuatnya kagum karena bisa mengangkut 700 pon (317 kilogram) dan melintasi medan berpasir yang ditolak kuda biasa.
Unta-unta hanya makan semak belukar dan kaktus berduri sepanjang perjalanan dan bisa bertahan delapan sampai sepuluh hari tanpa air. Para unta sama sekali tidak terganggu cuaca kering dan dinginnya malam hari.
Karena itu juga, ketika ekspedisi sempat kehilangan arah dan kekurangan air, para unta mampu bertahan dan menemukan sebuah sungai. Secara harfiah, para unta telah menyelamatkan nyawa mereka. Hingga tibanya mereka di California, mereka telah menempuh 1.200 mil (1.931 kilometer) dalam empat bulan.
"Pastinya tidak ada yang begitu sabar dan mau bertahan lama seperti hewan mulia ini. Mereka mau mengangkat jagung berat yang tidak pernah mereka cicipi. Mau menerima makanan yang ditawarkan tanpa keluhan, dan selalu menggerek gerobak. Sampai saat ini, tidak ada orang di kamp yang tidak senang dengan mereka," tulis Beale, menurut Yayasan Sejarah Angkatan Darat Amerika Serikat.
Beale sendiri menyelesaikan ekspedisi terakhirnya pada 1858. Ekspedisi itu dari Fort Smith, Arkansas, ke Sungai Colorado yang akan digunakan sebagai jalur kereta. Ini adalah usaha terakhir para unta yang berhasil.
Pada akhirnya, perang saudara mengakhiri perjuangan unta-unta hebat itu. Saat Camp Verde berada di bawah kendali Konfederasi, unta-unta dianiaya dan dibunuh. Kawanan 37 unta di Los Angeles pun dijual dan dilelang.
Adapun unta-unta yang selamat juga berakhir tidak terawat bahkan dilepas. Selama bertahun-tahun, unta berkeliaran di Southwest, di mana mereka menjadi pemandangan yang familiar sampai awal 1900-an.
Sementara eksperimen unta terbukti gagal di Amerika Serikat, negara Australia baru menggunakan hewan itu untuk eksplorasi. Barulah pada 1840 hingga 1907, sebanyak 20 ribu ekor unta telah diimpor dari India ke Negeri Kanguru itu. Hingga kini, Australia punya populasi unta liar terbesar di dunia.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.