Image

Pasukan Keamanan Filipina Bersihkan Kota Marawi dari Senjata dan Bom Tanam

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Minggu 31 Desember 2017 03:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 31 18 1838028 pasukan-keamanan-filipina-bersihkan-kota-marawi-dari-senjata-dan-bom-tanam-gDyf9Cz506.jpg Pasukan Militer Filipina tengah berpatroli di Kota Marawi. (Foto: Reuters)

MANILA - Dua bulan setelah merebut kembali Kota Marawi, Filipina, dari kelompok militant yang berafiliasi dengan ISIS, Maute, pasukan Filipina terus membersihkan kota yang dikenal penuh dengan bahan peledak dan amunisi yang kini ditinggalkan oleh para ekstremis.

Butuh waktu beberapa bulan lagi untuk menghapus sepenuhnya sejumlah besar persenjataan yang tidak meledak dan jebakan bom yang sewaktu-waktu dapat meledak yang ditanam oleh ekstremis pro-ISIS.

Pasukan Maute membebaskan Marawi pada Oktober melalui sebuah pertempuran sengit selama lima bulan yang menghancurkan kota tersebut dan menewaskan lebih dari 1.200 orang. Pertempuran tersebut juga memaksa ribuan orang lainnya untuk mengungsi. Kebanyakan dari mereka adalah petani miskin.

BACA JUGA: Mantap! Militer Filipina Berhasil Rebut Markas Militan di Marawi

Mayor Jenderal Arnold Rafael Depakakibo, Kepala Angkatan Bersenjata Filipina (AFP), mengatakan bahwa pasukan sejauh ini telah membersihkan 30 persen wilayah Marawi yang paling terkena dampak dari persenjataan yang tidak meledak dan bahan peledak improvisasi. Pada 15 Desember, sebanyak 2.853 persenjataan yang tidak meledak dan 415 alat peledak dihancurkan oleh pasukan.

"Ini dilakukan melalui dukungan dari Explosives and Ordnance Disposal Company dan K-9 Teams dari Angkatan Darat Filipina dan Angkatan Udara Filipina," kata Depakakibo dalam sebuah pernyataan, dilansir dari Xinhua, Minggu (31/12/2017).

"Kami juga melanjutkan dukungan konstruksi terbatas kepada instansi pemerintah yang terlibat dalam mendukung pemeliharaan pusat evakuasi," tambah Depakakibo.

BACA JUGA: Tegas! Duterte Tolak Mentah-Mentah Tawaran Negosiasi Militan di Marawi

Dua bulan setelah konflik Marawi berakhir, Komite Palang Merah Internasional mengatakan bahwa ribuan penduduk pengungsi tinggal di pusat-pusat darurat pemerintah, bergantung pada bantuan.

Pihak berwenang mengatakan akan memakan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar membangun kembali Marawi. Presiden Filipina Rodrigo Duterte menginginkan proses rekonstruksi dan rehabilitasi selesai sebelum masa jabatannya berakhir yaitu pada 2022.

Selain itu, Duterte memerintahkan perpanjangan darurat militer di seluruh Mindanao sampai Desember 2018 untuk menjaga wilayah ini tetap aman sementara proses pembangunan kembali sedang berlangsung.

Militer Filipina terus menggempur anggota militan radikal yang telah menduduki Kota Marawi. Konflik ini juga menyita perhatian sejumlah negara, seperti Indonesia dan Malaysia, karena terdapat kekhawatiran bahwa para militan di Marawi berniat membangun basis ISIS di Asia Tenggara.

(pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini