MONROVIA – Sebelum digantikan oleh George Weah awal pekan ini, mantan Presiden Liberia, Ellen Johnson Sirleaf telah menandatangani sebuah perintah eksekutif yang melarang praktik sunat pada perempuan atau yang secara umum dikenal dengan nama female genital mutilation (FGM). Moratorium yang ditandatangani Sirleaf pekan lalu itu berlaku dalam jangka waktu 12 bulan.
BACA JUGA: Ritual Setrika Payudara yang Mengerikan dari Afrika
Perintah eksekutif tersebut merupakan tindakan terakhir yang diambil oleh Sirleaf selama menjabat sebagai presiden. Namun, aktivis sayap kanan mengklaim bahwa tindakan tersebut kemungkinan tidak dapat dipaksakan dan dinilai kurang kuat untuk mencegah masyarakat untuk mempraktikkan FGM.
"Meski kami memuji mantan Presiden Ellen Johnson Sirleaf karena menandatangani Perintah Eksekutif mengenai RUU Kekerasan Dalam Rumah Tangga, masih terlalu dini untuk merayakannya karena masih ada jalan yang panjang sebelum tidak ada toleransi terhadap FGM di Liberia," kata aktivis anti FGM, Grace Uwizeye sebagaimana dilansir RT, Jumat (26/1/2018).
"Undang-undang itu sendiri tidak cukup kuat untuk menghalangi masyarakat mempraktikkan FGM. Jika seseorang dinyatakan bersalah, hakim bisa menentukan apakah hukuman yang diberikan kepada pelaku antara konseling atau denda,” lanjutnya.