Alasan Ketua BEM UI Beri Presiden Jokowi Kartu Kuning
Setidaknya ada tiga alasan Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) Zaadit Taqwa menghadiahi 'Kartu Kuning' kepada Presiden Jokowi.
Tak hanya memberikan 'kartu kuning' dari buku paduan suara UI kepada Kepala Negara, Zaadit juga diketahui sempat meniupkan pluit layaknya sebuah pertandingan olahraga guna memberikan peringatan kepada orang nomor satu di Indonesia itu.
"Itu tadi buku paduan suara, karena pengawasan lumayan ketat tadi. Jadi pas masuk ke dalam, makanya kita pakai buku itu, biar bisa masuk," tegas Zaadit.
Dia menjelaskan, pemberian 'kartu kuning' tersebut sebagai gambaran bila Kepala Negara telah mendapatkan peringatan dari rakyat. Artinya, lanjut dia, mantan Gubernur DKI Jakarta itu telah diberikan peringatan keras agar segera menyelesaikan sejumlah permasalahan bangsa.
"Kita bawa tiga tuntutan, dan kita sudah sampaikan lewat aksi di stasiun (Universitas Indonesia)," jelas Zaadit.
Zaadit menjelaskan, tiga tuntutan tersebut adalah, pertama banyaknya kasus gizi buruk di Asmat, Papua agar segera diselesaikan oleh pemerintah pusat.
Kedua, pihaknya menolak adanya usulan Pj Gubernur berasal dari perwira tinggi TNI/Polri. Dia berpendapat, pemerintah ingin menghidupkan dwi fungsi TNI-Polri.
"Kita tidak ingin kalau misalnya kembali ke zaman orde baru, kita tidak pengen ada dwifungsi Polri, dimana Polisi aktif pegang jabatan gitu (gubernur) karena tidak sesuai dengan UU Pilkada dan UU Kepolisian," urainya.
Tuntutan ketiga, BEM UI menolak adanya rancangan aturan baru tentang Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang tengah disusun dari Draf Permenristekdikti tentang Ormawa. Hal itu karena dapat mengancam kebebasan berorganisasi dan gerakan kritis mahasiswa di Indonesia.
"Kita tidak ingin mahasiswa dalam bergerak atau berorganisasi dan berkreasi itu dikungkang, oleh peraturan yang kemudian dibatasi ruang gerak mahasiswa," tuturnya.
Zaadit terpaksa harus diamankan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dari ruangan Balairung UI ke Pengamanan Lingkungan Kampus (PLK) atas aksi protesnya yang menghadiahi 'kartu kuning' kepada Presiden Jokowi.
"Tidak ada (kekerasan), cuman diminta keterangan saja, diminta identitasnya. Aksi ini dilakukan spontan, karena sebenarnya niatnya sudah ada tapi berubah-ubah rencana, menyesuaikan kondisi di dalam juga," pungkasnya.
(Fiddy Anggriawan )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.