TANGERANG SELATAN – Rasa haru yang menyayat hati begitu dirasakan Hafis Isa Asyari (15) usai mendapat kabar adanya kecelakaan di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat, yang melibatkan ibunya Ari Lestari (42). Siswa kelas IX SMP Muhammadiyah ini pun harus merelakan perpisahan selama-lamanya dengan sang ibu yang dinyatakan menjadi salah satu korban meninggal dunia di kecelakaan bus pada Sabtu 10 Februari 2018 sore tersebut.
Saat menanti jenazah ibunda tercinta tiba di RSUD Tangerang Selatan (Tangsel), Hafis sempat bercerita tentang pesan yang disampaikan khusus kepadanya. Tidak sadar, ternyata itu adalah waktu terakhir kali dia berkomunikasi dengan ibunya sebelum mengalami kecelakaan tragis.
"Aku sempat tanya mamah kemarin. 'Mamah berangkat jam berapa tadi? Terus sudah sampai mana?' Mamah jawab, 'Sudah sampai rest area. Tadi pagi berangkat jam 6, adek (sebutan Hafis dari sang ibu)'," tutur Hafis sambil terisak tangis, Minggu (11/2/2018).
(Baca: Tangis Keluarga Pecah saat Jenazah Korban Kecelakaan Tanjakan Emen Tiba di RSUD Tangsel)
Ia dan kakaknya yang bernama Hana Khoirunnisa Asyari merupakan dua bersaudara yang lahir dari pasangan Asep Budiharjo dan Ari Lestari. Kakaknya sendiri kini tengah menempuh kuliah di STIEAD Ahmad Dahlan.
Ibunda Hafis memang diketahui ikut dalam rombongan bus yang baru saja selesai mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Permata di Ciater, Subang. Seluruh peserta mencapai sekira 159 orang yang dibagi dalam tiga bus.
Bus yang ditumpangi Ari Lestari itulah yang mengalami kecelakaan hingga menyebabkan 27 orang meninggal dunia. Sedangkan belasan penumpang lain mengalami luka berat dan ringan.
"Mamah cuma titip pesan, 'Kamu hati-hati ya, adek'," ujar Hafis.
Sebelum kecelakaan itu, Hafis sangat gelisah dengan perasaan yang dialami tak sebagaimana mestinya. Acapkali dia merasa ingin selalu berada di dekat pelukan sang ibu.
"Dari sebelum kejadian, sudah enggak enak, gelisah terus," imbuhnya.
Bahkan, awalnya dia meminta agar sang ibu turut mengajaknya pergi ke Subang. Namun takdir berkehendak lain, ibunya berangkat dengan ditemani neneknya Sri Widodo (63) dan Martiningsih (35), keponakan dari ibunya. Ketiganya pun dinyatakan tewas akibat kecelakaan.
"Adek sekarang sudah enggak bisa punya ibu," tutur Hafis dengan raut wajah sangat sedih. (han)
(Awaludin)