Anak Tergeletak Lemas Diduga Diberi Obat Penenang, KPAI Minta Polisi Telusuri

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Sabtu 17 Februari 2018 07:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 17 337 1860723 anak-tergeletak-lemas-diduga-diberi-obat-penenang-kpai-minta-polisi-telusuri-j1j8DoHUs1.JPG Anak di minimarket (foto: Okezone)

JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta kepolisian untuk mendalami adanya dugaan pemberian obat penenang kepada anak yang tergeletak lemas di minimarket kawasan Jakarta Pusat.

Komisioner KPAI Bidang Trafficking dan Eksploitasi, Ai Maryati Solihah menyebut saat ini, pihaknya telah bertemu dengan Kanit PPA Polres Jakarta Pusat, terkait dengan kasus tersebut.

"KPAI meminta agar polisi segera memastikan apakah anak ini mengonsumsi zat adiksi dan lainnya, dan harus mendapat pemulihan secara medis. Sampai saat ini masih dilakukan pemeriksaan," kata Ai kepada Okezone, Jakarta, Jumat (16/2/2018).

Dari hasil pertemuan dengan pihak kepolisian, Ai menyebut terdapat beberapa fakta dari anak tersebut. Salah satunya adalah, orangtua anak tersebut yang sehari-hari ngamen dengan membawa anak tersebut U (11 bulan). Dan melalui keterangannya ia mengakui dengan membawa U pendapatannya akan meningkat berkali lipat.

"Dalam UU Perlindungan Anak siapapun dilarang melakukan eksploitasi, apalagi orangtuanya sendiri, karena ini bentuk tindakan pidana. Kami lihat secara holistik, faktor apa yang mendorong hal ini terjadi, setelah didalami mereka masuk dalam kategori rentan kesejahteraan sosial," papar Ai.

Menurut Ai, bukan hanya foto anak yang tersebar luas di masyarakat yang diajak sehari-hari bekerja oleh ayahnya. Namun, ada beberapa bocah lainnya yang dijadikan anak angkat juga merasakan hal yang sama.

"Tidak punya akses apapun kartu keluarga bahkan tidak punya tempat tinggal, bukan hanya U anaknya masih ada 3 usia 6, 8 dan 16 tahun (anak angkatnya), dengan kehidupan jalanan, mengamen, dan berpindah-pindah," sebut Ai.

Oleh karena itu, KPAI, kata Ai merujuk anak-anak ini agar berada di bawah perlindungan Dinas Sosial untuk mendapatkan rehabilitasi dan pemenuhan hak sipil, supaya menerima akses kesejahteraan dari pemerintah.

"Harapannya agar Jakarta benar-benar terbebas dari praktik eksploitasi siapapun dia tidak dibenarkan, dan dengan alasan apapun, sekalipun untuk menyambung hidup, inilah pekerjaan panjang kami agar mampu menyampaikan informasi dan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat," tutup Ai.

(muf)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini