MEDAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo berharap, hujan segera turun di sekitar wilayah lingkar Gunung Api Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Sebab, hujan sangat dibutuhkan untuk menetralisir abu vulkanik yang masih menutupi ribuan hektare lahan pertanian warga, yang kini masih tertutup abu tebal.
“Kondisi kini sudah kondusif, tapi ribuan hektare lahan pertanian warga di delapan kecamatan terdampak masih tertutup abu. Kita harap hujan bisa segera turun,” kata Kepala BPBD Karo, Martin Sitepu, Selasa (20/2/2018).
(Baca Juga: Ratusan Warga Sekitar Gunung Sinabung Dipulangkan ke Desanya)
Martin mengatakan, upaya menyiram lahan pertanian warga sebenarnya sudah dilakukan dengan memanfaatkan armada mobil tangki milik BPBD serta Dinas Pencegah dan Pemadam Kebakaran maupun armada water canon milik Polri. Namun, armada yang ada belum mampu menjangkau seluruh wilayah pertanian warga.
“Harus ada penanganan cepat atas tanaman warga ini, karena kalau tidak segera dibersihkan, tentunya akan rusak dan tidak layak panen,” tandasnya.
Sejauh ini, sambung Martin, erupsi tidak lagi terjadi. Namun, ia meminta masyarakat untuk tetap waspada, karena erupsi susulan bisa terjadi kapan saja.
“Hari ini belum ada erupsi. Tapi yang terpenting sebenarnya bukan soal erupsinya, tapi sesiap apa masyarakat menghadapi erupsi tersebut,” pungkasnya.
(Baca Juga: Abu Vulkanis Gunung Sinabung Sudah Capai Kota Lhokseumawe Aceh)
Seperti diberitakan sebelumnya, Gunung Api Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara mengalami erupsi dahsyat pada Senin 19 Februari 2018 sekira pukul 08:54 WIB. Erupsi gunung berketinggian 2450 mdpl itu membentuk kolom erupsi hingga 5 ribu meter. Erupsi juga menyebabkan luncuran awan panas hingga sejauh 4,9 kilometer.
Akibat erupsi itu, delapan kecamatan di lingkar Gunung Sinabung terpapar abu vulkanik. Lima di antaranya bahkan sempat gelap gulita karena matahari tak bisa menembus tebalnya abu vulkanik. Sejumlah wilayah di lima kecamatan itu juga terdampak hujan kerikil yang dimuntahkan dari mulut gunung.
(Arief Setyadi )