PARIS - Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta Presiden Iran Hassan Rouhani untuk menekan Pemerintah Suriah untuk mengakhiri serangan di Ghouta Timur dan mengizinkan bantuan kemanusiaan untuk masuk ke wilayah yang terkepung itu.
BACA JUGA: Korban Tewas Warga Sipil di Ghouta Timur Capai 601 Orang
Permintaan itu disampaikan Macron melalui pembicaraan telefon dengan Rouhani menjelang kunjungan Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian ke Teheran. Kedua pemimpin setuju bekerjasama dengan PBB, Pemerintah Suriah dan negera-negara dunia dalam beberapa hari ke depan untuk memperbaiki situasi bagi warga sipil dan membuat gencatan senjata menjadi efektif.
Iran adalah salah satu sekutu setia Presiden Suriah Bashar al Assad dalam menghadapi kelompok pemberontak terutama militan yang didukung Amerika Serikat (AS).
Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan akan membawa isu mengenai rudal balistik Iran dalam kunjungannya ke Teheran pada Senin, 5 Maret. Prancis mengingatkan Iran untuk melakukan negosiasi terkait senjata mutakhirnya itu atau terancam mendapatkan sanksi baru.
Program rudal balistik Iran menjadi perhatian banyak negara Barat, termasuk AS yang menuntut Teheran untuk menghentikan program tersebut jika ingin perjanjian nuklirnya dengan enam kekuatan dunia bertahah. Namun, sumber diplomatik Prancis mengatakan, Le Drian tidak berbicara untuk mendukung AS, melainkan menyampaikan kekhawatiran Prancis kepada Pemerintah Iran.
"Terkait rudal balistik, program Iran tidak sejalan dengan resolusi 2231 PBB dan kami memiliki perhatian khusus pada transfer pengetahuan tentang kapasitas balistik kepada aktor regional dan dengan itu yang kami maksud adalah Hizbullah," kata sumber diplomatik itu.
Selama ini Prancis selalu mendesak Washington untuk tidak mengaitkan program rudal balistik dan kegiatan regional Iran dengan perjanjian program nuklir yang ditandatangani pada 2015. Namun, Iran telah berulangkali menegaskan bahwa program persenjataan mereka bukanlah urusan pihak luar, termasuk Prancis.
Diwartakan Reuters, Senin (5/3/2018) Le Drian direncakan untuk bertemu Presiden Hassan Rouhani dan Menteri Luar Negeri Javad Zarif serta pejabat-pejabat yang dekat dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, termasuk Sekretaris Dewan Agung Keamanan Nasional, Ali Shamkhani.
BACA JUGA: Iran Tolak Imbauan Presiden Prancis Terkait Renegosiasi Program Rudal
"Iran selalu terbuka terhadap pembicaraan dan menyelesaikan masalah melalui diplomasi. Tetapi ini bukan berarti kita akan tunduk pada tekanan yang tidak adil atas hak kita yang tak terbantahkan, baik defensif atau apapun," kata seorang sumber yang dekat dengan Rouhani.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.