“Tanam kopi memiliki umur yang panjang hingga 30 tahun. Jika tanam kopi dimulai saat anak kita masih TK, maka hingga biaya kuliah, bisa dilakukan dengan uang dari hasil panen kopi,” jelas Wempi.
Saat ini yang menjadi masalah adalah rendahnya harga kopi di bawah rata-rata, hingga menyebabkan masyarakat malas kembali untuk menanam kopi.
“Harga yang ditawarkan per kilogram kopi saat panen bisa Rp 45 ribu hingga Rp 60 ribu,” kata Wempi.
Ke depan, pemerintah perlu memberikan dana tambahan untuk mendorong petani kopi lebih mengembangkan hasil panennya. Dana tambahan tersebut bisa bersumber dari dana otonomi khusus (otsus), melalui pemberian bantuan bibit, bantuan alat pembukaan lahan, lalu bagaimana masyarakat bisa mengembangkan usaha yang lebih luas lagi.
“Itulah makanya kita datang untuk melihat petani kopi, sehingga jika atas kehendak Tuhan, saya terpilih menjadi gubernur Papua, pasti akan kami programkan untuk pengembangan petani kopi di daerah pengunungan Papua,” ujarnya.
Harapan Petani
Mentara Maximus Lany mengatakan bahwa membudidayakan kopi Wamena cukup menjanjikan, meski kesabaran sangat dibutuhkan.