"Petani Kopi Wamena menjaga cita rasa kopi hingga masa panen. Petani tidak memetik buah yang masih hijau, tetapi harus sudah masak yang berwarna merah,” ujar Maximus.
Dia menjelaskan menjadi petani kopi seperti kopi Wamena harus memiliki kesabaran yang tinggi. Pasalnya, untuk menikmati pundi-pundi rupiah dari kopi memerlukan tahapan yang panjang.
"Seperti saat ini belum masa panen. Bulan Januari hingga Mei itu baru bunga, selanjutnya Juni sampai Juli baru panen, lanjut pembersihan biji kopi hingga proses dan keuntungan bisa dirasakan sampai bulan Desember. Dan kondisi saat ini sedang menipis," paparnya.
“Sekarang ini buah lagi hijau, nanti Juni baru panen. Jadi produksi
kami lagi sepi,” sambungnya.
Maximus yang saat ini bersama 38 Kepala keluarga petani kopi di Kampung Yagara, telah tergabung dalam koperasi Arabika Baliem. Di koperasi ini semua hasil panen ditampung dan selanjutnya dijual keluar sesuai pesanan.
"Sepanjang 2017, kami telah mengirim 28 ton kopi ke Jayapura dan Timika. Dan harapan kami jumlah ini bisa bertambah," ucapnya.