nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cagub Koster Janji Jaga Kelestarian Kain Tenun Khas Bali

Nurul Hikmah, Jurnalis · Selasa 13 Maret 2018 21:46 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 13 340 1872316 cagub-koster-janji-jaga-kelestarian-kain-tenun-khas-bali-3mKhSUElwD.jpg Wayan Koster (Foto: Okezone)

KARANGASEM - Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster-Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati (Koster-Ace) temui perajin tenun Pegringsingan di Desa Tenganan, Karangasem, Selasa (13/3/2018).

Koster dan Cok Ace melihat secara langsung proses penenunan kain yang tersohor itu. Koster-Ace juga mendapat penjelasan langsung dari pemilik kerajinan, Nengah Wartawan.

Wartawan mengatakan, jika proses penenunan membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Sementara untuk proses pewarnaan memakan waktu yang cukup lama. Untuk membuat satu warna, misalnya warna merah, dibutuhkan waktu sekitar satu tahun. Proses pewarnaannya juga tak bisa langsung seketika, melainkan per triwulan sekali.

"Kalau langsung nanti warnanya bercampur dengan warna yang lain. Makanya tiga bulan sekali agar kering dulu, baru diwarnai lagi," katanya.

(Baca Juga: Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Karangasem, Koster Akan Gelar Festival Buah Salak)

Sementara itu, yang paling krusial dari penenunan ini adalah bahan baku. Untuk warna, bahan bakunya diambil dari Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.

"Di sana yang terbaik, karena pewarnaan ini dari bahan alami yaitu buah mengkudu dan di sanalah yang terbaik, karena buah mengkudu di sana tumbuh di atas batu kapur," paparnya.

Sementara untuk proses dari awal hingga menjadi kain tenun, diperlukan waktu sekitar dua tahun. Tergantung juga pada panjangnya kain. Minimal dua tahun dari nol sampai jadi kain.

“Rata-rata kain tenun di sini menyimbolkan laki-laki dan perempuan," jelasnya.

(Baca Juga: Satu Per Satu Desa di Karangasem Dukung Koster Jadi Pemimpin Bali)

Wayan Koster akan memastikan agar kain tenun Pegringsingan wajib dilestarikan. "Ini harus dilindungi. Demi kelestarian kain tenun Pegringsingan maka harus diatur mulai dari hulu hingga hilir. Hulunya itu kan menjamin ini bisa terus berjalan seperti kebutuhan bahan baku akan benangnya, pewarnanya dan lainnya. Begitu juga dihilir harus dipastikan dengan baik," katanya.

Koster menambahkan, mendapat informasi jika bahan baku pewarna yakni buah mengkudu mulai hampir sulit dicari.

Penyebabnya tak lain karena alih fungsi lahan yang terjadi secara massif di mana-mana. Pihaknya mengusulkan agar dibuat perkebunan yang khusus menanam buah mengkudu agar tenun Pegringsingan tak punah.

"Untuk itu, tanaman tersebut juga harus ditanam terus supaya tidak penuh," pungkasnya.

 

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini