Dipicu Hoaks, Potensi Konflik Masyarakat Kian Meningkat Jelang Pilkada 2018

Fahreza Rizky, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 22:28 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 14 337 1872910 dipicu-hoaks-potensi-konflik-masyarakat-kian-meningkat-jelang-pilkada-2018-E2NMDjNHeU.jpg Diskusi publik Poros Wartawan Jakarta bertema "Hantu Hoaks dalam Pemberitaan Media" di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (14/3/2018). (Foto: Amril Amarullah/Okezone)

JAKARTA – Markas Besar Polri memprediksi potensi konflik masyarakat menjelang Pilkada Serentak 2018 dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 akan semakin meningkat. Satu di antara faktor pemicunya ialah hoaks yang mengalir deras di media sosial.

"Tentu perkiraan intelijen yang disampaikan jelas bahwa memasuki pesta demokrasi, potensi konflik akan semakin meningkat," kata Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Mohammad Iqbal, dalam acara diskusi publik Poros Wartawan Jakarta (PWJ) dengan tema "Hantu Hoaks dalam Pemberitaan Media," di Jakarta Pusat, Rabu (14/3/2018).

Iqbal mengibaratkan kondisi masyarakat saat ini dengan mesin mobil yang mulai panas. Mesin yang sudah panas tersebut akan mudah “menyala” bila terus dipicu dengan tuas starter. "Ibaratkan mesin mobil, mesin itu mulai panas, sudah mulai distarter," sebutnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat terlibat dalam 'cooling system' yang digagas Polri guna menjaga kesejukan menjelang pesta demokrasi. "Sesuai undang-undang, kepolisian yang menjadi leading sector," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Informasi dan Komunikasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto mengatakan, persebaran hoaks menjelang Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 akan semakin menguat. "Pastinya lebih tinggi. Di tahun politik sudah mulai mengarah ke situ, apalagi memasuki Pilpres 2019," ujarnya.

Wawan berujar, berdasarkan hasil patroli siber, aparat penegak hukum yakin akan menemukan dalang di balik maraknya penyebaran hoaks di media sosial. Apalagi, saat ini pihaknya telah memiliki alat yang canggih untuk mendeteksi arus informasi bohong tersebut.

"Peralatan sudah canggih. Mudah sekali untuk menemukan siapa pengunggah pertama, dan kebanyakan pasti ketemu itu," ucapnya.

(Baca Juga: BIN: Generasi Milenial Paling Rentan Hoaks)

Meski demikian, BIN dan Polri mengaku selalu mengedepankan aspek pencegahan ketimbang penindakan. Karena itu, pihaknya juga akan melakukan penguatan literasi media sosial.

"Kita ingin ada sikap mendidik, menasihati satu sama lain untuk tidak (menyebarkan hoaks), nanti penjara penuh sama penyebar hoaks yang jumlahnya begitu banyak, kan malah repot," pungkasnya.

Selain Iqbal dan Wawan, turut hadir pengamat media sosial Nukman Luthfie, peneliti senior LP3ES Rahadi T Wiratama, dan wartawan senior Budiarto Shambazy.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini