Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Siapa dari 5 Ketum Parpol Ini Paling Berpeluang Jadi Cawapres Jokowi?

Salman Mardira , Jurnalis-Sabtu, 24 Maret 2018 |19:40 WIB
Siapa dari 5 Ketum Parpol Ini Paling Berpeluang Jadi Cawapres Jokowi?
Presiden Joko Widodo (kanan) berjalan bersama Ketum Golkar Airlangga Hartarto di Kebun Raya Bogor (Biro Pers Setpres/Antara)
A
A
A

Menurutnya Jokowi harus selektif memilih cawapres jika ingin memenangkan Pilpres 2019. Selama ini, elektabilitas dan popularitas Jokowi memang belum terkalahkan dalam berbagai hasil survei. Tapi, itu belum menjamin karena angkanya masih di bawah 50 persen.

Karena itu, kata Ujang, Jokowi butuh sosok pendamping yang bisa menaikkan elektoralnya. Salah satu kriteria yang harus dipenuhi adalah sosok cawapres harus bebas dari kasus masa lalu. “Ini akan sangat menentukan,” ujarnya.

 

Presiden Jokowi dengan Zulkifli Hasan (Okezone)

Lima pimpinan parpol tadi, menurut Ujang, belum sepenuhnya terjamin bebas dari kasus masa lalu. Sehingga hal ini bisa menjadi celah bagi lawan politik untuk mengungkitnya lalu menyerang elektabilitas Jokowi.

(Baca juga: Elektabilitas Jokowi Tinggi, Tokoh Partai Berjuang Ingin Jadi Cawapres)

Terkait dengan sosok Cak Imin dan Romi yang dianggap memiliki basis massa santri, Ujang menilai, itu juga tak ada jaminan. Karena pada pemilu-pemilu sebelumnya, ada juga tokoh Nahdlatul Ulama yang maju dalam pilpres, tapi kalah suara.

“Yang menentukan (kemenangan) adalah integritas dan ketokohan, artinya tidak ada kasus. Karena kalau ada kasus akan membuka celah bagi lawan politiknya untuk menyerang,” pungkas Ujang.

Sementara Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago menilai, Jokowi bisa berpasangan dengan siapa saja. Tapi, ia bisa saja mendapat ganjalan dari PDI Perjuangan.

Menurut Pangi, pemimpin partai tempat Jokowi bernaung tersebut tak akan merestui mantan gubernur DKI Jakarta itu berpasangan dengan ketum parpol koalisi.

"Karena kepentingan PDIP  bisa terganggu di 2024. Kalau Jokowi santai saja, yang penting jangka pendek, sementara PDIP berpikir jangka panjang, kalau kursi cawapres diambil ketua umum parpol koalisi pendukung Jokowi selain PDIP, bisa bumerang bagi PDIP," ujarnya.

"Sama saja mengasih panggung emas ke partai  lain," lanjut dia.

Pangi menilai cawapres pendamping Jokowi penentunya ada di tangan Megawati Soekarnoputri dan parpol koalisi pengusung.

PDIP, menurut dia, akan mendorong kadernya yang mendampingi Jokowi.

"Kalau deadlock, maka pendamping Pak Jokowi diperkirakan dari kalangan profesional yang karir politiknya juga habis setelah Jokowi habis masa jabatan, persis cawapres seperti JK dan Budiono," pungkasnya. (sal)

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement