Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Ibu Muda Penderita TBC Tulang Belakang Bangkit dari Kelumpuhan

Taufik Budi , Jurnalis-Senin, 26 Maret 2018 |01:03 WIB
Cerita Ibu Muda Penderita TBC Tulang Belakang Bangkit dari Kelumpuhan
Enih penderita TBC tulang belakang yang bangkit dari kelumpuhan. (Foto: Taufik Budi/Okezone)
A
A
A

SEMARANG – Seorang ibu muda di Semarang, Jawa Tengah, bangkit setelah setahun lumpuh akibat menderita tuberkulosis (TBC) yang mengeroposkan ruas tulang belakangnya. Lebih parahnya, dia menderita kelumpuhan saat perutnya terus membuncit karena mengandung anak ketiga.

Perempuan itu bernama Enih Nurhaeni (37), warga Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Sekilas tidak ada yang berbeda dengan perempuan berkerudung itu saat memperlihatkan foto-foto medis hasil magnetic resonance imaging (MRI).

Sorot matanya terlihat kosong saat hendak mengawali cerita. Seolah sedang meneropong masa lalu sembari mengumpulkan potongan-potongan peristiwa yang menimpanya. Setelah menarik napas panjang, dia mulai membuka pengalaman ketika sakit.

"Awalnya itu hanya sakit di punggung. Seperti kaku-kaku dan nyeri sekali. Tapi saat itu masih bisa jalan normal dan mengajar ke sekolah," ujar Enih sembari melirik foto MRI yang berada di tangannya, Minggu 25 Maret 2018.

Perempuan asal Kuningan, Jawa Barat, tersebut semula menduga nyeri di punggung akibat terlalu capek dengan aktivitas sehari-hari. Apalagi saat itu, dia tengah mengandung dengan usia kehamilan empat bulan. Hal tersebut diperkuat dengan pemeriksaan dokter yang menyatakan kandungan tak bermasalah.

"Orang hamil itu kan pasti periksanya kalau tidak ke bidan ya dokter kandungan. Nah dari beberapa dokter kandungan semuanya sama, menyatakan kandungan baik-baik saja. Nanti kalau kehamilan semakin tua rasa nyeri-nyeri itu akan hilang," lugasnya.

Kondisinya justru semakin memburuk. Kemampuan jalannya semakin pelan dan terbatas. Meski jarak tempat tinggalnya ke sekolah tempat mengajar hanya sekira 50 meter, namun perjalanan membutuhkan waktu cukup lama.

"Sampai guru-guru yang lain maupun temen TU pada bilang kok sampai seperti itu jalannya. Jalan pelan dan sangat payah. Apalagi jika harus naik tangga, karena kelas saya ada di atas. Butuh waktu dan tenaga yang sangat besar," terangnya lagi.

Dengan kondisi yang kian payah dan sering keluar keringat dingin, dia kembali periksa ke dokter. Namun, dokter kembali menyatakan kondisi kehamilan baik. Untuk mengurangi nyeri punggung, hanya disarankan mencari posisi terbaik ketika duduk maupun berbaring.

"Suami saya yang semula bekerja di Jakarta akhirnya pulang untuk fokus merawat saya. Saat itu saya sudah tidak kuat lagi untuk berangkat sekolah. Hanya di rumah, tapi masih bisa ke kamar mandi. Untuk makan kami lebih banyak beli di warung," jelasnya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement