Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Ibu Muda Penderita TBC Tulang Belakang Bangkit dari Kelumpuhan

Taufik Budi , Jurnalis-Senin, 26 Maret 2018 |01:03 WIB
Cerita Ibu Muda Penderita TBC Tulang Belakang Bangkit dari Kelumpuhan
Enih penderita TBC tulang belakang yang bangkit dari kelumpuhan. (Foto: Taufik Budi/Okezone)
A
A
A

Selama kurang lebih dua pekan dia diobservasi oleh tim dokter. Setiap hari dokter muda maupun spesialis datang silih berganti. Kemudian, dokter memberi rekomendasi untuk dilakukan operasi penyambungan tulang belakang setelah cesar.

"Sudah diobservasi oleh beberapa dokter spesialis untuk penyambungan tulang belakang menggunakan pen. Tapi dokter berulang kali bilang kalau operasi itu tidak menjamin bisa mengembalikan kemampuan untuk jalan lagi, setidaknya hanya bisa duduk dan nanti aktivitasnya di kursi roda. Wah saya rasanya sudah enggak ada pilihan, pasrah saja. Karena saya kan juga harus operasi cesar untuk kelahiran anak saya," ujarnya.

Hingga pada 23 Juli 2015, Enih menjalani operasi cesar. Seorang bayi cantik yang diberi nama Nurul Kahfeeyah lahir. Setelah operasi cesar, dokter tak langsung melakukan operasi tulang belakang. Pasien diminta pulang terlebih dahulu dan kembali sepekan lagi. Selain pen belum siap, langkah itu juga sebagai upaya agar operasi selanjutnya bisa menggunakan BPJS lagi.

"Nah ketika pulang ini, masuk babak baru. Kami tinggal di pondok tempat kami mengaji. Kami disarankan untuk berikhtiar dulu ke alternatif sambil menunggu waktu sepekan sebelum kembali ke rumah sakit. Apalagi, kan kita tahu operasi nanti enggak ada jaminan saya bisa kembali jalan normal. Malah kata direkturnya hanya mukjizat yang bisa menjadikan saya bisa kembali jalan. Kebetulan suami saya saat itu ketemu dengan direktur rumah sakit," jelasnya.

Enih juga menyampaikan, karena kondisinya lumpuh untuk menjalani pemeriksaan ke rumah sakit harus menggunakan ambulans. Suara sirine ambulans yang meraung-raung beberapa kali mengagetkan warga.

"Yang namanya di kampung kan jika ada ambulans pasti bertanya-tanya, ada apa koq ada sirine ? siapa yg sakit?Saat itu saya kan sering bolak-balik ke rumah sakit pakai ambulans" terangnya.

Selain memutuskan untuk tak menempuh operasi penyambungan tulang belakang, Enih bersama suaminya juga harus mengambil keputusan berat. Mereka harus merelakan ketiga anaknya termasuk bayi mungil Feeya untuk dirawat oleh keluarga di Kuningan. Tangis haru pecah seketika, saat Feeya beserta kedua kakaknya dijemput.

"Waktu itu keluarga saya dari Kuningan dan keluarga suami dari Blora datang semua. Ya menangis. Berat memang. Tapi gimana lagi. Ini adalah pilihan yang saya anggap paling tepat. Biar anak-anak bareng neneknya di Kuningan, meski sebenarnya keluarga Blora juga meminta agar dirawat di sana (Blora)," jelasnya dan terlihat butiran bening meleleh dari matanya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement