Sebagai ibu yang telah melahirkan dua anak, Enih merasa nyeri punggung kala itu berbeda dengan kehamilan-kehamilan sebelumnya. Dia pun berusaha mencari second opinion ke dokter lain yang disebut-sebut terbaik di Kota Semarang. Setali tiga uang, dokter itu juga menyatakan tak ada masalah dalam kehamilan, sehingga tetap belum diketahui sakit yang dideritanya.
"Akhirnya ada satu dokter yang menyarankan saya untuk periksa ke dokter spesialis saraf. Tapi karena saya sedang hamil, dokter saraf tidak berani melakukan tindakan pemeriksaan maupun memberi obat. Rontgen, MRI, atau lainnya belum bisa dilakukan, karena kehamilan masih di bawah tujuh bulan," bebernya dengan sorot mata kosong.
Praktis kondisi Enih kian memburuk. Dia tak sanggup lagi untuk berjalan. Sehari-hari waktunya dihabiskan di tempat tidur dengan sesekali duduk untuk makan dan minum. Aktivitas buang air besar maupun kecil juga di tempat itu, karena tak ada kemampuan ke kamar mandi.
"Jadi semuanya harus dibantu oleh suami dan anak. Kadang bergantian dengan ibu saya yang datang setelah dikabari saya sakit. Perut ke bawah sampai kaki sudah tidak bisa digerakkan, mati rasa. Hingga saya kemudian dirawat di rumah sakit swasta di Ungaran. Karena kehamilan sudah masuk tujuh bulan, dokter akhirnya meminta untuk dilakukan pemeriksaan dengan MRI. Katanya itu lebih aman bagi janin dibanding rontgen," sebutnya.
Setelah pemeriksaan medis itu, mulai terkuak jenis penyakit yang diderita Enih. Dokter spesialis saraf pun sangat berhati-hati memberikan penjelasan tentang penyakit langka tersebut. Suami pasien dipanggil ke ruang tertutup.
"Hasil pengamatan visual, tulang belakang saya rusak, patah. Dan di situ dikelilingi oleh abses atau nanah. Biasanya kalau seperti itu, sakit TBC. Setahu saya TBC itu kan di paru-paru kok ini malah menyerang tulang. Dalam kebingungan itu, suami saya bilang jika diagnosa itu baru dugaan awal. Untuk memastikan bener atau tidaknya TBC harus ada tiga atau empat pemeriksaan lagi. Ternyata yang dikatakan suami itu bohong, dia ngarang saja, agar saya enggak panik," ungkapnya sambil tertawa.
Meski telah muncul diagnosa, namun tim dokter yang menangani Enih belum berani mengambil tindakan. Justru dia kemudian dirujuk ke RSUP dr Kariadi Semarang, karena yang dianggap memiliki peralatan dan petugas medis lebih lengkap.
"Katanya untuk operasi cesar harus didampingi oleh dokter spesalis bedah saraf. Kalau di sana tadi kan hanya dokter spesialis saraf. Tapi saya bersyukur ditangani dengan baik, meski awal-awalnya susah. Malah dinyatakan bukan kategori gawat darurat dan disuruh pulang. Terus saya datang ke poli bedah saraf, dokternya langsung bilang suruh opname lewat IGD, artinya kan gawat darurat. Entahlah dokter yang piket gimana itu," terangnya.