Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Ibu Muda Penderita TBC Tulang Belakang Bangkit dari Kelumpuhan

Taufik Budi , Jurnalis-Senin, 26 Maret 2018 |01:03 WIB
Cerita Ibu Muda Penderita TBC Tulang Belakang Bangkit dari Kelumpuhan
Enih penderita TBC tulang belakang yang bangkit dari kelumpuhan. (Foto: Taufik Budi/Okezone)
A
A
A

Dia mengisahkan, selama menjalani pengobatan alternatif sempat beberapa kali merasa putus asa. Selama dua bulan pertama nyaris tak ada perubahan. Dua kakinya belum bisa bergerak sama sekali. Bahkan kedua kakinya terlihat semakin mengecil karena tidak digunakan untuk beraktivitas. Semua aktivitasnya harus harus dibantu suami. Setiap 15-30 menit dia meminta dibantu berganti posisi tidur.

"Rasanya panas di punggung, sakit. Jadi selama itu suami tidak pernah bisa tidur nyenyak. Kalau sudah enggak merasa nyaman posisi berbaring, pasti saya membangunkannya minta dibantu dimiringkan ke kiri, ke kanan, telentang lagi dan seterusnya. Terus kalau pagi dua kaki juga saya minta digerakkan agar tak semakin mengecil. Sudah dingin dan mengecil kaki saya, waktu itu tinggal tulang saja. Rasanya seperti mayat hidup" lugasnya.

Meski menjalani pengobatan alternatif, Enih tetap mengonsumsi obat TBC dari dokter. Setiap dua pekan suaminya harus menebus obat di rumah sakit terdekat setelah berkonsultasi dengan dokter setempat. Di samping itu, Enih juga mengonsumsi obat herbal dari terapis alternatif.

Hingga memasuki bulan ketiga opname di tempat pengobatan alternatif, dia akhirnya bisa menggerakkan jempol kaki kiri. Dari situ dia mulai bersemangat untuk terus berlatih menggerakkan kaki kiri dan kanan. Perkembangan selanjutnya adalah menggerakkan pergelangan kaki hingga mampu mengangkat lutut.

"Akhirnya saya mulai bisa duduk. Kemudian berusaha ngesot keluar pintu kamar. Sebab selama berbulan-bulan itu saya ada di kamar dan tidak pernah mengetahui di luar kamar perawatan itu seperti apa. Setiap saya ingin ke kamar mandi, saya naik ke sajadah lalu ditarik menuju kamar mandi yang berada di luar kamar " terangnya.

Perkembangan kesehatannya semakin bagus, sehingga setiap pagi selalu semangat latihan berdiri sambil berpegangan pagar mushala. Setelah cukup kuat, ibu tiga anak itu belajar melangkah. Dengan ditopang tongkat, dia memberanikan diri berjalan di sekitar kamar.

"Dari situ kesehatan saya semakin baik. Sampai saat ini bisa jalan normal, meski kaki kadang juga terasa kesemutan. Ruas tulang belakang yang keropos itu juga sudah tidak ada absesnya. Dan posisi punggung sekarang agak menekuk, membungkuk Mungkin tidak bisa kembali normal 100 persen seperti dulu, tapi ini sudah anugerah yang luar biasa. Serasa mendapat kesempatan hidup kedua," lugasnya dengan mata berbinar.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement