"Tapi kalau tidak ada pesanan saya tetap bikin asal ada besinya, kalau tidak ada saya kerja diladang,” imbuhnya.
Riki Asem mengungkapkan, kendala yang dihadapinya saat ini adalah sulitnya mencari besi untuk bahan baku pembuatan parang. Biasanya Riki Asem mendapatkan besi dari bekas sparepart kendaraan tua yang sudah tidak terpakai. Jika bahan bakunya mudah didapat, Dia yakin, produksi parang dari dusun sontas bisa mencapai ratusan parang setiap bulan.
“Kendalanya cuma itu, susah dapat besi. Kalaupun ada yang jual, harganya tinggi. Harapannya ada bantuan agar perajin bisa bertahan, paling tidak pendampingan lah untuk kami di sini,” pungkasnya.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.