"Kalau sekarang lagi ngerjain proyek bangun rumah didekat sini, kadang kalau masih keburu sore atau malam ya terus lanjut ngojek," ujar Tarjuki ditemui dikediamannya, Kamis (5/42018).
Tarjuki mesti kerja keras seorang diri menghidupi kebutuhan hidup keluarga kecilnya. Apalagi, putrinya yang tertua, Puja Dwi Noviana, saat ini sedang duduk di bangku sekolah kelas 5 SDN Pondok Jaya 03, Pondok Aren, dan tentu membutuhkan biaya tambahan pendukung pendidikannya.
Sedangkan Nurifah sendiri tak bisa beraktifitas banyak, lantaran harus terus menemani, SK, yang didiagnosa mengidap gizi buruk sejak masa-masa awal kelahiran. Keperluan membeli susu, beras, sewa rumah, dan kebutuhan sekolah putrinya kadang harus ditutupi dengan hutang ke tetangga dan saudara.
"Dulu waktu pertama lahir pernah periksa, terus 2 tahunan lalu katanya (petugas Puskesmas) memang berat badan sama usia anak saya gak seimbang, ya dibilang kena gizi buruk. Disaranin perbaiki asupan gizinya, susu, asi," kata Nurifah.
Nurifah sendiri awalnya sempat kesulitan untuk mendapat pengobatan atas kondisi gizi buruk yang dialami putri bungsunya. Dia dan suami, belum memiliki KTP Tangsel, sebagaimana dijadikan prasyarat utama dalam mendapat pelayanan administratif diberbagai instansi.