Image

Koalisi AS Tembakkan 100 Rudal Penjelajah ke Suriah

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Sabtu 14 April 2018 18:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 14 18 1886663 koalisi-as-tembakkan-100-rudal-penjelajah-ke-suriah-gYxM7dtWqo.JPG Salah satu rudal terlihat terbang melintasi wilayah udara Damaskus (Foto: Reuters)

DAMASKUS – Koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) menembakkan lebih dari 100 peluru kendali (rudal) jelajah Tomahawk ke Suriah. Namun, pasukan pertahanan udara Suriah dan pasukan Rusia mengklaim sebagian besar dari rudal itu berhasil dicegat.

“Lebih dari 100 rudal penjelajah dan rudal udara-ke-darat ditembakkan oleh AS, Inggris, dan Prancis dari laut dan udara kepada target militer serta warga sipil Suriah,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Rusia, mengutip dari Times of Israel, Sabtu (14/4/2018).

Pernyataan senada diungkapkan militer Suriah. Brigadir Jenderal Ali Mayhoub menuturkan, salah satu dari ratusan rudal itu menghantam pusat penelitian di Barzeh, dekat Damaskus, hingga menghancurkan sebuah bangunan. Sementara satu rudal di Homs berhasil digagalkan meski melukai tiga orang.

Mayhoub memastikan bahwa serangan-serangan tersebut tidak akan melemahkan posisi militer Suriah dalam perang menghadapi teroris bersenjata di wilayah kedaulatannya. Ia yakin dengan bantuan Rusia rudal-rudal tersebut akan selalu dapat dihalau.

BACA JUGA: Trump Umumkan Serangan Militer Tiga Negara ke Suriah

BACA JUGA: Serangan Militer Bukan untuk Gulingkan Rezim Suriah

Di pihak lain, AS tidak tahu-menahu apabila ada rudalnya yang berhasil dicegat. Kepala Staf Militer AS, Jenderal Joseph Dunford, mengklaim serangan tersebut berhasil menghantam tiga target, satu pusat penelitian, satu gudang penyimpanan dan pos komando, serta satu gudang penyimpanan senjata kimia di Homs.

Sebagaimana diberitakan, Presiden AS Donald Trump memerintah serangan militer terhadap fasilitas-fasilitas senjata kimia Suriah yang dilakukan bersama dengan Inggris dan Prancis. Pria asal New York itu mengatakan, keputusan diambil untuk membalas serangan senjata kimia pasukan Suriah ke Douma pada Sabtu 7 April yang menewaskan puluhan orang.

Perdana Menteri (PM) Inggris, Theresa May, memastikan bahwa serangan ditujukan untuk menghancurkan kapabilitas senjata kimia, bukan menggulingkan rezim Suriah. London disebutnya tidak akan mengizinkan penggunaan senjata kimia sebagai sesuatu yang normal, entah itu di Suriah, jalanan Inggris, atau di tempat lain di seluruh dunia.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini