TANGSEL - Sejumlah balita yang mengidap gizi buruk di wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel), kini sebagian besarnya telah memasuki fase pemulihan dan peningkatan medis. Bocah-bocah itu beranjak pulih dari status gizi buruk menjadi gizi kurang.
Meski secara antropometri dinyatakan pulih, namun pengawasan rutin dalam Pemberian Makanan Tambahan (PMT) terhadap Balita itu terus dilakukan oleh petugas kesehatan, baik dari Puskesmas maupun Posyandu setempat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Suhara Manulang mengatakan, gizi buruk tidak harus dianalogikan dengan busung lapar, sehingga bisa ditangani sesegera mungkin bagi balita yang mengidapnya. Oleh karena itu, pada tiap Posyandu disiapkan program penimbangan rutin terhadap variabel Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB) dari tiap Balita.
"Petugas yang akan memantau adalah TPG (Tenaga Pelaksana Gizi), itu nanti yang akan mendata, kalau sudah didata maka intervensinya adalah dengan memberi makanan tambahan (PMT), karena yang normal kan sudah tidak menaikkan berat badan, itu masuk PMT, itu ada ukurannya," jelas Suhara di kawasan Puspiptek, Serpong, Tangsel, Senin (16/4/2018).
Menurut Suhara, ada dua faktor yang menjadi penyebab terjadinya gizi buruk. Pertama soal penyakit penyerta, seperti bawaan penyakit jantung, kelainan genetik, TBC, gejala perkembangan otak, liver, hepatitis dan lainnya. Kedua soal pola asuh, yakni minimnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya nilai gizi terhadap perkembangan anak, dengan problem berbeda-beda seperti pekerjaan, ekonomi keluarga, dan sebagainya.
"Jadi upaya dari pemerintah kota Tangsel adalah memberikan PMT pada siapapun anak yang terkena gizi buruk akibat penyakit penyerta. Penyakit penyertanya apa? bagi yang ber-KTP Tangsel maka kita gunakan fasilitas yang ada, jika tidak maka kita upayakan dengan BPJS. Tapi kalau yang pola asuh, itu membutuhkan dukungan dari dinas lain dan masyarakat," imbuhnya.
Sebagaimana dialami bocah berinisial MIF (2), putra sulung dari pasangan Sahrul (20) dan Wita Yulianti (18) yang tinggal di daerah Bakti Jaya, Setu, Kota Tangsel. Tiap pekan, petugas kesehatan datang untuk mengecek dan memantau kondisi pertumbuhannya yang kini meningkat dengan status gizi kurang.
Keluarga kecil MIF, baru sekira 3 bulan belakangan tinggal di suatu rumah sederhana di wilayah itu. Keseharian dari sang ayah, Sahrul, hanyalah pedagang sayuran keliling, sedangkan istrinya, Wita, tak bisa beraktiftas lain karena harus selalu berada di rumah mengurus MIF.
MIF, didiagnosa mengidap gizi buruk pada akhir 2017 lalu. Ketika itu, petugas Posyandu dan Puskesmas Kecamatan Setu mendapati kondisi pertumbuhan MIF tak berimbang, dimana beratnya hanya 8,2 kilo dengan usia yang berjalan.
Pihak keluarga sendiri tak menyadari jika MIF ternyata dikategorikan gizi buruk, karena sebelumnya mereka memang tinggal di daerah Rawa Kalong (Perbatasan Kota Tangsel dan Kabupaten Bogor), dan tak pernah memeriksakan kondisi MIF ke Posyandu tempat tinggalnya kala itu.
"Baru tahu waktu di cek di Posyandu disini, beratnya waktu itu cuma 8,2 kilo. Habis itu dikasih biskuit, susu, dan diarahin supaya menjaga asupan makanan yang bergizi. Alhamdulillah sejak itu, kondisinya terus membaik, beratnya juga sudah naik sekarang," tutur Wita saat ditemui di rumahnya.
Petugas Nutrisionis Puskesmas Bakti Jaya, Lia Leviyanti, menerangkan, kondisi MIF mengalami peningkatan berarti usai menjalani penanganan khusus. Beratnya pun saat ini telah mencapai batas normal, yakni 9 kilo, dibandingkan periode sebelumnya, Januari-Februari 2018 seberat 8,6 kilo, dan Desember 2017 seberat 8,2 kilo.
"Kalau MIF ini kan memang mengidap gizi buruk itu karena faktor pola asuh dari orang tuanya. Jadi progres penanganannya pun bisa cepat, sekira 3 bulan sejak didiagnosa itu (Desember 2017) sampai sekarang sudah meningkat statusnya, tak lagi gizi buruk. Tapi kita terus memberikan Conceling kepada orang tuanya bagaimana menjaga pola asuh terhadap si anak, selain itu juga asupan PMT terus kita berikan," kata Leviyanti saat memantau perkembangan MIF.