Balita lainnya yang juga sempat mengidap gizi buruk adalah seorang anak perempuan berinisial, SF (2,3), putri bungsu dari 3 bersaudara, Suci Silviani (8), dan Ari Saputra (12). Mereka kini hanya memiliki orang tua tunggal, yakni Ibunya yang bernama Turinah (38). Sementara sang ayah, telah lama memilih untuk berpisah.
Turinah, SF dan kedua kakaknya tinggal mengontrak di Jalan Pembangunan, Serua, Ciputat. Untuk menafkahi ketiga anaknya, tiap hari Turinah harus berjualan gorengan sambil menggendong SF keliling kampung mengendarai sepeda.
Penghasilannya berdagang sebenarnya tak seberapa, dari pagi hari hingga pukul 11.00 WIB, paling banyak mendapat uang sebesar Rp50 ribu. Itu pun harus dibagi setoran kepada pemilik kue. Sisanya, barulah disisihkan untuk membeli beras, lauk pauk, dan kebutuhan lain bagi ketiga anaknya.
Kondisi keprihatinan itu, tentu menjadi salah satu pemicu yang menyebabkan perhatian terhadap kesehatan sang anak tak begitu diutamakan. Hingga pada suatu waktu, barulah diketahui jika SF ternyata menderita gizi buruk akibat kekeliruan dalam pola asuh sehari-harinya.
"Waktu lahir normal, tapi waktu usia sekira 6 bulan mulai sakit-sakitan. Awalnya muntaber, terus sembuh, habis itu ya sakit lagi. Saya tahu kalau anak saya kena gizi buruk itu waktu diperiksa di Puskesmas saat usia 1,8 tahun, waktu itu bulan Februari 2017. Beratnya cuma 5 kilo," ujar Turinah.
Petugas Kesehatan dari Puskesmas setempat lantas memberikan penanganan khsusus bagi SF. Pemberian PMT, vitamin dan obat rutin dikirim ke kediamannya. Sejak ditangani, akhirnya kondisi SF berangsur membaik, beratnya pun kini terus bertambah menjadi 8,9 kilo.
"Kalau SF ini kan awalnya memang terkena gizi buruk bukan akibat penyakit penyerta, sudah di cek waktu itu. Setelah kita tangani, akhirnya kondisi SF makin membaik, beratnya juga sudah mengarah ke normal. Tubuhnya yang sebelumnya sangat kurus, sekarang menjadi kurus, berangsur meningkat. Tapi tetap PMT selalu rutin kita berikan," jelas Christi, Nutrisionis Puskesmas Situ Gintung, Serua, Ciputat.
Data yang diperoleh melalui Dinas Kesehatan Kota Tangsel menyebutkan, sejak tahun 2016 ada 94 kasus gizi buruk yang ditemukan, namun seluruhnya berhasil ditangani. Kemudian pada tahun 2017, kembali ditemukan 109 kasus, dengan 72 kasus diantaranya dapat tertangani tuntas.
Sedangkan pada tahun 2018 terjadi penurunan drastis menjadi 59 kasus. Itupun dengan penambahan 37 kasus lama yang belum tuntas penanganannya dari tahun 2017, dan 22 kasus baru di tahun 2018.
Dari 59 kasus gizi buruk di tahun 2018, sebanyak 26 Balita dinyatakan sembuh. Sementara 33 kasus lainnya masih dalam penanganan, dengan rincian 10 kasus akibat penyakit penyerta, dan 23 kasus akibat salah pola asuh.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.