Menurut Polri, saat dibebaskan, Iwan dalam kondisi luka lebam di bagian wajahnya dan lainnya, sehingga ia langsung dilarikan ke RS Polri guna perawatan lebih lanjut. Dengan demikian, kata 'makanan' dalam kasus kerusuhan di rutan Mako Brimob menjadi satu hal yang tidak bisa dilepaskan dalam fakta kejadian.
Meskibegitu, sejumlah pihak tidak memercayai begitu saja statement yang dikeluarkan Polri. Salah satunya pengamat terorisme Al Chaidar.
Al Chaidar berujar, dirinya tidak yakin pemicu kericuhan antara narapidana kasus terorisme (napiter) dengan anggota Polri di Rutan Mako Brimob disebabkan oleh masalah sepele, yakni makanan atau urusan perut.
BACA JUGA: 155 Napi Teroris Mako Brimob Akan Dipindah ke Nusakambangan
Menurut dia, insiden yang menyebabkan banyak korban bergelimpangan itu murni disebabkan perlawanan para mujahidin.
"Bukan masalah makanan. (Ini) perlawanan murni mujahidin ISIS," katanya kepada Okezone.
Al Chaidar menyarankan agar penegak hukum membuat rutan khusus untuk napiter. Tujuannya agar virus radikalisme yang masih melekat dengan napiter, tidak menyebar ke napi kasus lainnya.
"Aparat harus membuat penjara yang khusus," jelas dia.
Lebih dari itu, Al Chaidar mengatakan bahwa polisi dianggap sebagai thoghut oleh para napiter. Sehingga, tidak aneh ketika terjadi perlawanan dari mereka, meskipun dari dalam rutan.
"Polisi dianggap thoghut oleh ISIS. Napiter lebih militan, lebih fatalis," pungkasnya.
(Ramdani Bur)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.