Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Rukyat di Kupang NTT, Hilal Belum Terlihat

Adi Rianghepat , Jurnalis-Selasa, 15 Mei 2018 |18:07 WIB
Rukyat di Kupang NTT, Hilal Belum Terlihat
Ilustrasi (Foto: Ist)
A
A
A

KUPANG - Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar rukyat untuk mengamati visibilitaa hilal (bulan) sebagai penentu awal bulan ramadan. Kegiatan yang melibatkan BMKG Kupang pada Selasa 15 Mei 2018 jelang matahari tenggelam itu ternyata belum menemukan hasil.

"Hari ini hilal tak terlihat karena bulan atau hilal terbenam lebih dahulu dari matahari," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kupang Sholakhudin usai melakukan rukyat, Selasa (15/5/2018).

Menurutnya, selain tak terlihat karena tertutup awan, hilal juga tak terlihat karena hilal terbenam mendahului matahari.

"Hilal baru bisa terlihat jika matahari terbenam lebih dahulu dari bulan. Jadi hari ini tak terlihat," katanya.

Dan hasil pemantauan ini, lanjut dia, akan diserahkan kepada Kemenag untuk dilanjutkan ke pemerintah pusat sebagai dasar putusan dalam sidang Isbat malam ini. "Kami hanya bisa serahkan hasil rukyat kali ini ke pemerintah sebagai pedoman memutuskan," ujarnya.

Cuaca Mendung, Tim Rukyatul Hilal Bali Gagal Melihat Bulan

Meskipun malam ini akan dilakukan sidang Isbat, namun BMKG kata dia akan melakukan pengamatan ulang padaa Rabu 16 Mei besok. "Besok kami lakukan pemantauan lagi meskipun malam ini ada keputusan dalam sidang Isbat terkait awal Ramadan," katanya.

Kepala Kantor Kemenag Provinsi Nusa Tenggara Timur Syarman Marselinus mengatakan, hasil yang diperoleh BMKG dalam rukyat dan hisab hari ini akan diteruskan ke kementerian di Jakarta sebagai bahan dalam sidang Isbat yang dilakukan malam ini.

Menurutnya, jika memang akan terjadi perbedaan waktu awal Ramadan, hal itu adalah lumrah karena memang dunia ini tak sempurna. "Yang sempurna di dunia hanyalah Allah," katanya.

Meskipun berbeda namun tidak untuk diperdebatkan dan dibesar-besarkan atau didiskusikan. Sekiranya perbedaan itu hanyalah sebuah bagian dari khasana kehidupan kebhinekaan di dunia atau di negera ini.

Setiap kita lanjut dia agar menjadikan awal ramadan dan bulan Ramadan sebagai momentum mendoakan keberagaman dan kebhinekaan dalam satu kerekatan yang harmonis.

"Ingat kita punya tanggung jawab mendoakan agar negeri ini bisa terus aman dan damai hidup dalam keharmonisan meskipun berbeda. Dan selama Ramadan inilah kesempatannya," kata dia.

Aksi pelaksanaan rukyat di Kota Kupang diisi dengan talk show menghadirkan sejumlah tokoh agama dan mahasiswa untuk meluaskan pemahaman menyambut bulan Ramadan.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement