JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan mengungkapkan adanya informasi bahwa kelompok Islamic State Irak and Syria (ISIS) ingin menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis kekuatanya setelah kalah Filipina.
Pengamat Terorisme, Zaki Mubarak mengungkapkan, informasi pemindahan basis kekuatan ISIS di Indonesia memang menguat. Menurutnya, kelompok radikal itu melirik Kota Poso, Sulawesi Tengah sebagai markas di Indonesia.
Menurut Zaki, alasan ISIS untuk menduduki Poso lantaran, jaringan Mujahidin Indonesia Timur MIT) sekaligus sekutu ISIS itu memiliki kekuatan yang solid di bawah kepemimpinan Santoso alias Abu Wardah.

"Betul, jadi selain Filipina, Marawi, maka Indonesia yang dilirik sebagai basis. Terutama di Poso, karena saat itu MIT di bawah Santoso sangat kuat," kata Zaki saat berbincang dengan Okezone, Jakarta, Rabu (16/5/2018).
Selain itu, Zaki menyebut, kondisi sosial di Poso juga menjadi kesempatan ISIS berniat menempati kota itu sebagai markas di Indonesia. Tak hanya itu, sambung Zaki, adanya fenomena konflik Agama di Poso juga menjadi celah untuk dimanfaatkan ISIS.
"Beberapa jihadis dari Uighur dan Turki juga telah bergabung dengan MIT. Juga kondisi sosiologis masyarakat yang terfragmentasi akibat konflik Islam-Kristen di Poso menjadikannya sangat kondusif (untuk jadi markas ISIS)," papar Zaki.

Zaki mengungkapkan, jauh sebelumnya, Kota Poso memang sudah diincar oleh kelompok Al-Qaeda untuk dijadikan basis kekuatan dari jaringan tersebut. Bahkan, hal ini yang diindikasikan kuat sebagai lahirnya kelompok MIT di Indonesia.
"Sebelumnya awal 2000an Jemaah Islamiyah (JI), sudah merancang proyek Uhud untuk menjadikan Poso sebagai basis Al-Qaeda. Proyek Uhud, itulah yang menjadi salah satu cikal bakal munculnya MIT," ungkap Zaki.

Aparat kepolisian sendiri telah membentuk tim untuk memburu kelompok MIT dengan sandi Operasi Tinombala. Bahkan, sampai saat ini, tim gabungan Polri dan TNI masih terus mengincar beberapa kelompok MIT di Poso.
Rencana pemindahan basis ISIS ke Indonesia sendiri diungkapkan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu. Informasi itu diperoleh dalam kerja sama operasi enam negara dengan sandi 'Our Eyes'.
Adapun enam negara itu, yakni Indonesia, Malaysia, Brunei Darusalam, Thailand, Singapura, dan Filipina.
(Rachmat Fahzry)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.