Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengenal Sosok Suciati si Pengusaha Dunia-Akhirat yang Bangun "Masjid Nabawi" di Sleman

Agregasi Harian Jogja , Jurnalis-Kamis, 31 Mei 2018 |17:37 WIB
Mengenal Sosok Suciati si Pengusaha Dunia-Akhirat yang Bangun
Masjid Suciati Saliman. (Foto: Harian Jogja)
A
A
A

YOGYAKARTA — Nama Suciati Saliman mungkin masih asing bagi sebagian besar warga Yogya, tetapi tidak bagi warga Kota Sleman dan sekitarnya. Namanya kini terpatri sebagai nama sebuah masjid yang cukup ikonik dan Instagrammable di ruas Jalan Gito-Gati di timur Lapangan Beran.

Merintis usahanya dari nol, dengan berjualan lima ekor karkas ayam kampung di Pasar Terban, Yogya, Suciati membuktikan bahwa kerja keras, keuletan, dan kegigihan merupakan modal utama dalam mengembangkan usaha yang sekarang menjelma sebagai imperium bisnis. Kini, usahanya merambah produk makanan olahan.

Dia adalah tipe entrepreneur sejati yang mampu mengubah bentuk usaha sederhana menjadi multiusaha nan kompleks. Kelompok usaha yang dikendalikannya bergerak dari ke hulu dan ke hilir. Ke hulu, dia berbisnis pemotongan ayam secara manual kelas rumahan yang di kemudian hari berkembang jauh hingga dia memiliki Rumah Potong Ayam (RPA) modern yang diberi nama RPA Saliman dengan brand ayam SR.

Suciati Saliman. (Foto: Harian Jogja)

Guna memperkuat lini usahanya, bisnis daging ayam yang dikembangkannya itu diperkuat dengan sertifikasi Halal MUI dan NKV (Nomor Kontrol Veteriner). Tidak berhenti begitu saja, pada 2009, dia mendirikan RPA Suci Raharjo di Jombang, Jawa Timur.

Adapun ke hilir, usaha yang bermula dari jualan daging ayam di pasar tersebut bertransformasi menjadi bisnis makanan olahan berbasis daging —terutama ayam dan sapi— berskala nasional, dan tak cuma merambah pasar tradisional, melainkan hadir di sejumlah gerai berbagai supermarket dan pasar swalayan.

Selanjutnya pada 2014, Suciati mendirikan PT Sera Food Indonesia yang memproduksi makanan beku (frozen food) melalui merek Hato dan Oye.

Guna menjamin proses produksi, kesemuanya pun tersertifikasi Halal MUI dan MD BPOM. Kedua brand itu menjual makanan olahan beku seperti nugget, sosis, bakso, patties, spicy wing, fillet, dan lain-lain. Kini, produk ayam maupun frozen food telah terdistribusi di seluruh Indonesia baik di pasar modern maupun pasar tradisional.

Di kalangan peternak setempat, nama Suciati Saliman sangat dikenal dengan baik, karena menampung hasil produksi mereka, juga menyediakan sarana produksinya (day-old chic/DOC dan pakan ternak). Suciati merupakan nama pemberian orangtuanya. Masyarakat sekitar lebih mengenalnya sebagai Bu Saliman, yang merupakan nama almarhum sang suami, Saliman Riyanto Raharjo.

Masjid Suciati Saliman. (Foto: Ist)

Hubungan bisnis yang terjalin sebagai inti-plasma itu tentu sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat. Dari pola usaha seperti ini, terbentuk hubungan saling menguntungkan antara inti dan plasma, selain strategi produksi makanan olahan yang ditempuhnya.

Dengan sejumlah fasilitas produksi yang didirikan di kawasan yang sekaligus menjadi pusat usahanya, warga setempat tentu saja merasa diuntungkan, karena sebagian besar dari mereka dapat terserap sebagai tenaga kerja tanpa harus jauh-jauh menempuh jarak ke tempat kerja.

Suciati berprinsip ingin sebanyak-banyaknya memberi manfaat bagi orang lain, dan cara yang dipandangnya efektif adalah melalui pembangunan sejumlah pabrik makanan olahan. Selain dapat menampung tenaga kerja yang berasal dari masyarakat Sleman di sekitar pabrik, upaya itu sekaligus sebagai strategi bisnis Saliman Group mengembangkan sayap bisnis ke arah hilir. Dia membeberkan kepada media bahwa pembuatan pabrik SFI tidaklah mudah.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement