Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ghurka, Pasukan Elit Singapura yang Akan Amankan KTT Trump-Kim

Rahman Asmardika , Jurnalis-Selasa, 05 Juni 2018 |14:39 WIB
Ghurka, Pasukan Elit Singapura yang Akan Amankan KTT Trump-Kim
Pasukan Ghurka akan diyakini akan amankan KTT Donald Trump dan Kim Jong-un. (Foto: Reuters)
A
A
A

SINGAPURA – Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un yang akan digelar pada 12 Juni mendatang merupakan sebuah peristiwa penting yang banyak menarik perhatian dunia. Untuk itu, Singapura selaku tuan rumah menerjunkan pasukan khususnya demi memastikan keamanan selama KTT tersebut.

Dilaporkan Reuters, Selasa (5/6/2018), Trump dan Kim akan dilindungi oleh para pejuang dari salah satu suku paling tangguh di dunia, para Gurkha dari Nepal, selama pelaksanaan KTT.

Menurut para diplomat yang mengetahui detail keamanan bagi tokoh-tokoh penting (VIP) di Singapura, meski kedua pemimpin akan membawa tim keamanan pribadi mereka sendiri, polisi elit Singapura, termasuk Kontingen Gurkha, akan turut mengamankan tempat pertemuan, jalan dan hotel di negara kota itu.

BACA JUGA: Trump Pastikan Tetap Bertemu Jong-un pada 12 Juni di Singapura

Pasukan Ghurka yang biasanya tidak banyak terlihat di Singapura, lebih banyak terpantau pada akhir pekan lalu saat mereka mengamankan Hotel Shangri-La yang menjadi lokasi konferensi keamanan yang dihadiri oleh Perdana Menteri India, Narendra Modi dan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Jim Mattis.

Unit pasukan khusus yang direkrut oleh Kepolisian Singapura dari perbukitan Nepal, mengenakan rompi anti peluru, senapan serbu buatan Belgia, FN SCAR, dan pistol di kakinya pada konferensi tersebut. Banyak pakar keamanan yang menilai bahwa event ini merupakan sebuah gladi resik untuk KTT Kim dengan Trump.

Satu hal yang unik, dengan semua perlengkapan dan persenjataan yang mereka bawa, para Ghurka tidak bersiap untuk bertempur tanpa kukri, pisau melengkung yang merupakan senjata tradisional mereka. Menurut adat dari para Ghurka, pisau kukri harus mendapat darah setiap kali ditarik dari sarungnya.

"Mereka adalah salah satu yang terbaik yang dapat ditawarkan Singapura, dan saya yakin mereka akan terlibat (pada KTT)," kata Pakar Angkatan Bersenjata Singapura dari International Institute for Strategic Studies (IISS), Tim Huxley.

"Mereka tetap merupakan kekuatan penting di garis depan, dan tuntutan dari jenis acara ini adalah jenis operasi khusus untuk ditangani Ghurka," tambahnya.

Huxley mengatakan Gurkha telah lama terbukti menjadi aset bagi pemerintah Singapura, memberikan kekuatan netral dalam negara kota yang memiliki beragam etnis, termasuk perlindungan VIP dan anti-huru hara. Data Imbangan Militer IISS menyebutkan terdapat 1.800 Ghurka yang bertugas di kepolisian Singapura di enam kompi paramiliter.

Seorang juru bicara polisi Singapura menolak berkomentar mengenai penempatan Gurkha atau pun jumlah mereka.

Pasukan Ghurka adalah warisan dari masa kolonial Inggris yang memiliki hubungan dengan tradisi kerajaan yang merekrut dan membayar resimen elit tentara dari Nepal selama lebih dari 200 tahun. Tentara Inggris mengagumi keberanian dan kemampuan tentara Ghurka sejak mereka dikalahkan dalam perang Inggris-Nepal di abad ke-19.

Laman resmi Kepolisian Singapura menggambarkan kelompok ini sebagai "tangguh, waspada dan tabah" yang beroperasi "di seluruh spektrum operasi paramiliter untuk membantu menjaga Singapura".

Anggota pasukan Ghurka tinggal dengan keluarga mereka di Kamp Mount Vernon di luar kota. Daerah itu tidak boleh dimasuki oleh warga awam Singapura. Kehidupan di lokasi itu disebut-sebut sangat ketat.

Biasanya direkrut pada usia 18 atau 19 tahun sebelum dilatih di Singapura, tentara Gurkha pensiun pada usia 45 tahun ketika mereka dipulangkan ke Nepal. Sementara anak-anak mereka bersekolah di sekolah setempat, Gurkha tidak diizinkan menikahi wanita lokal.

BACA JUGA: Kim Jong-un Ingin Tinggal di Kamar Seharga Rp83 Juta Semalam Selama KTT di Singapura

Sejumlah mantan perwira Angkatan Darat Inggris bertindak sebagai polisi Singapura yang disumpah dalam kepemimpinan senior, pelatihan dan peran organisasi.

"Meskipun mereka polisi, hubungan antara kontingen dan Tentara Inggris tetap dalam dan kuat," kata seorang perwira Angkatan Darat Inggris. "Mereka adalah bagian dari tradisi yang baik."

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement