"Ketika tumbuh besar, Rayyan suka sekali baca buku cerita. Setelah membaca nanti anak itu membuat dialog dan ilustrasi sendiri dari apa yang dia lihat. Tapi pola ceritanya seperti buku yang sudah dia baca," kata Salim.
Kemampuan Rayyan menarasikan cerita mulai terasah ketika duduk di Kelas 1 SD IT Buahhati. Kegiatannya bermain dengan teman sebayanya di sekolah membuat Rayyan memiliki ide untuk membuat komik. Tak hanya itu, saat bermain bola dengan teman-teman di kompleks rumahnya pun dijadikan bahan membuat gambar ilustrasi dengan bubuhan dialog khas anak-anak.
"Kalau di komplek rumah Rayyan biasa bercerita soal main bola bersama teman-temannya. Nah, di sekolah tentang main petak umpat yang dia ceritakan dalam bentuk komik. Saat itu memang gambarnya jelek tapi kami melihat anak ini punya potensi bercerita secara detail dan mengilustrasikan sesuatu dari pengalaman yang dirasakan dan disaksikannya," urai sang Ayah.
Ketika duduk di bangku kelas 2 SD, ada keinginan dari keluarga untuk mencoba membukukan gambar-gambar bercerita yang dibuat Rayyan. Namun, Salim memiliki pengalaman unik saat ingin membantu proses editing dan memberi masukkan, Rayyan seolah menunjukkan idealismenya.
"Saat saya mau melakukan editing dari alur cerita dan ilustrasi yang dibuat Rayyan sempat memberi masukkan, tapi dia tidak mau. Dia tetap ingin alur ceritanya seperti yang diinginkannya," tegas Salim.
Karya Perdana Rayyan, Komik Berjudul "Petualangan Babang Dewa" (foto: Ist)
Komik pertama berjudul "Petualangan Babang Dewa" pun akhirnya terwujud dengan upaya Salim mengajak temannya yang merupakan seorang kartunis untuk membuat gambar lebih menarik, tapi dengan cerita genuine dari Rayyan. Saat itu, komik Rayyan tidak dicetak banyak hanya untuk dibagikan kepada keluarga, teman-teman sekolah dan se-permainan serta ke guru SD-nya saja.