Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sakralnya Roti Buaya dalam Budaya Betawi

Muhamad Rizky , Jurnalis-Sabtu, 07 Juli 2018 |09:01 WIB
Sakralnya Roti Buaya dalam Budaya Betawi
(Foto: Istimewa)
A
A
A

Roti buaya dulu dan kini

Zaman dulu roti buaya yang dibawa dalam seserahan tidak dimakan atau dipotong untuk dibagi-bagi kepada tamu undangan, melainkan hanya jadi pajangan atau simbol pernikahan saja. Kala itu, seserahan dibawa bukan berbentuk roti, tapi replika buaya yang terbuat dari daun kelapa atau kayu.

"Simbol buaya itu dulu terbuat dari kraras, kraras itu daun kelapa dibuat dianyam menyerupai buaya, kadang dibikin dari model kayu dua-duanya untuk persembahan pernikahan,” ujar Yahya.

Sejak masa VOC atau serikat dagang Hindia Belanda menguasai Batavia (Jakarta sekarang), perlahan tapi pasti, replika buaya yang dibawa sebagai seserahan mulai berganti ke roti yang bentuknya dibuat mirip buaya.

Namun, tetap dijadikan sebagai pajangan saja, sebab saat itu tekstur roti buaya dibuat keras dan tidak memiliki rasa.

Yahya menuturkan seiring dengan membuminya pemahaman Islam dan mengubah pola pikir masyarakat, roti buaya pun mulai dibuat dengan tekstur yang lembut dan diberi rasa, agar bisa dimakan dan tidak mubazir.

(Angkasa Yudhistira)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement