nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPPPA: Perlindungan Anak Harus Kerja Keroyokan Semua Pihak

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Minggu 22 Juli 2018 17:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 22 1 1925760 kpppa-perlindungan-anak-harus-kerja-keroyokan-semua-pihak-ExwV8gHrV4.jpg Lenny Rosalin, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian PPPA di FAN 2018 (Foto: Wikanto Arungbudoyo)

SURABAYA - Menjalankan amanah perlindungan anak tidak bisa sendiri-sendiri, melainkan harus keroyokan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Lenny Rosalin, saat ditemui media di sela-sela Forum Anak Nasional 2018 di Hotel Singgasana, Surabaya, Jawa Timur.

Ia memberi contoh menjaga anak dari pengaruh rokok. Orangtua dan keluarga memang menjadi ujung tombak utama dalam mengatasi perokok anak. Akan tetapi, lingkungan sekolah, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan lain juga harus berkontribusi.

“Kita mengharapkan adanya partisipasi lembaga masyarakat dan juga dunia. Untungnya sudah banyak sekali dunia usaha yang mulai ikut dan peduli dengan bersama-sama mengambil peran dalam pilar keempat perlindungan anak,” tutur Lenny Rosalin, Jumat 20 Juli 2018.

Salah satu yang dianggap mendorong perokok di kalangan anak-anak adalah maraknya iklan rokok. Lenny menerangkan, sesuai klaster ketiga indikator Kota/Kabupaten Layak Anak (KLA), disebutkan bahwa perlunya kawasan tanpa rokok serta bebas dari iklan/sponsor rokok.

Langkah tersebut tidak mudah. Sebab, perusahaan-perusahaan rokok rata-rata sudah berdiri sejak lama dan punya dana promosi yang berlimpah. Tidak heran, perusahaan-perusahaan rokok dapat dengan mudah menjadi sponsor suatu kegiatan, termasuk olahraga.

“Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak (APSA) sudah menetapkan komitmen kalau perusahaan rokok tidak diizinkan menjadi sponsor lagi. Karena itu, keluarga harus mendampingi, masyarakat juga mendampingi, sehingga kalau anak-anak sudah sadar akan bahaya rokok, penolakan akan dilakukan secara alami,” tukas Lenny.

Ia menambahkan, Indonesia sendiri masih relatif baru terkait ratifikasi Konvensi Hak Anak yakni pada 1990. Dalam konvensi itu disebutkan bahwa anak adalah kelompok paling rentan. Apapun yang terjadi pada anak, kesalahan bisa dijatuhkan kepada orang dewasa, tidak hanya kepada orangtua dari si anak.

Lenny mengatakan, pada 13-15 September nanti akan ada Konferensi tentang Rokok yang digelar APACT di Bali. Pihaknya akan mendorong pembahasan dengan perspektif baru selain isu mengenai cukai, serta pekerja perempuan di industri rokok, yakni mengenai perokok anak.

Demi memperkuat perlindungan terhadap anak, Lenny juga mendorong agar media lebih berimbang dalam pemberitaan mengenai anak. Berita-berita yang disajikan tentang anak sebisa mungkin tidak selalu menampilkan sisi negatif saja tetapi juga lebih membangun. KPPPA sendiri sudah bekerja sama dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar media elektronik lebih ramah anak.

Peran pemerintah terutama pada sisi regulator dan fasilitator juga perlu diperkuat. Pemerintah daerah hingga pusat harus mampu merancang regulasi yang lebih ramah anak serta memberikan fasilitas-fasilitas untuk tumbuh kembang anak seperti Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA).

“Intinya (perlindungan anak) harus kerja keroyokan semua pihak,” tutup Lenny Rosalin.

(hth)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini