nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Indonesia Serahkan Kapal Mewah Milik Buronan 1MDB, Mahathir Ucapkan Terima Kasih

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 07 Agustus 2018 13:34 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 07 18 1932968 indonesia-serahkan-kapal-mewah-milik-buronan-1mdb-mahathir-ucapkan-terima-kasih-DcajC6njL8.jpg Kapal Pesiar Equanimity. (Foto: Reuters)

JAKARTA – Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad menyampaikan terima kasih kepada Indonesia atas penyerahan kapal pesiar mewah Equanimity milik pengusaha tersangka skandal korupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB), Low Taek Jho atau yang juga dikenal dengan nama Jho Low. Malaysia mengklaim Equanimity dibeli dengan menggunakan dana hasil korupsi dari badan investasi tersebut.

Pengembalian kapal pesiar bernilai sekira USD250 juta tersebut sempat menimbukan kontroversi karena dianggap berlawanan dengan hukum. Pengacara Low Taek Jho mengatakan, kliennya membeli kapal mewah tersebut dengan menggunakan uangnya sendiri, bukan dana 1MDB yang diselewengkan, sehingga kliennya Equanimity tidak berhak untuk diklaim oleh Pemerintah Malaysia.

BACA JUGA: Sejumlah Ahli Bantu Ungkap Misteri Yacht Mewah Equanimity Buruan FBI di Bali

“Kami senang karena kapal layar Equanimity diserahkan kepada pihak berwenang Malaysia oleh pihak berwenang Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih kepada Indonesia karena memiliki kerja sama yang erat dengan Malaysia dalam menyelesaikan isu yang dihadapi,” kata PM Mahathir melalui sebuah video yang diunggah di akun Facebook pada Senin.

“Kami percaya kapal ini merupakan milik Kerajaan Malaysia karena dibeli dengan uang milik Malaysia yang dicuri oleh pihak tertentu.”

The Star melaporkan, Kapal Equanimity disita di Bali pada Februari atas permintaan dari pihak berwenang Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari penyelidikan skandal korupsi 1MDB.

BACA JUGA: Pengacara: Penyerahkan Kapal Pesiar Mewah dari Polri ke Malaysia Langgar Aturan

Namun, putusan pengadilan di Jakarta pada April menyatakan bahwa penyitaan kapal tersebut tidak sah dan Equanimity harus dikembalikan kepada pemiliknya. Meski dikembalikan, kapal layar tersebut dilarang untuk meninggalkan Pelabuhan Tanjung Benoa sampai akhirnya disita kembali pada Juli menyusul adanya permintaan resmi bantuan hukum dari AS.

Menurut laporan dari Reuters, keputusan Pemerintah Indonesia untuk menyerahkan Equanimity kepada Pemerintah Malaysia diambil karena permintaan pribadi dari PM Mahathir saat berkunjung ke Jakarta pada Juni lalu.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini