Begitu pun dalam hal spanduk karnaval sebagai pertanda mewakili sekolah, mereka tidak ada. "Spanduk pun kami tak punya, sebab keterbatasan dana itu lah, kami mau pakai spanduk, tapi tidak ada dana", ungkapnya.
Jenang juga mengungkapkan keinginan anak SAD terhadap berbagai jenis olahraga dan seni yang diperlombakan pada perayaan peringatan HUT RI dan perayaan hari besar lainnya, namun terkendala karena tidak punya biaya.
"Kami ada kebudayaan dan seni, dan mau olahraga, cuma untuk biaya kegiatan kami enggak ada dana", lanjutnya.
Jenang Mustapa berharap perhatian Pemerintah dalam hal penyaluran bakat anak SAD dalam olahraga, budaya dan seni, "Kami berharap bakat anak-anak kami tersalur, kalau tidak, balik sekolah anak-anak akan tetap masuk hutan, ke sungai, ada yang pergi sendiri, ada yang ikut bapaknya cari babi", urai Jenang Mustapa.
Penuturan Jenang Mustapa dibenarkan oleh Temenggung Lintas, "Pekerjaan saya berburu lah pak. Dari hari ke hari, balik anak dari sekolah, kami bawa berburu," sebut Temenggung Lintas, yang mengaku mempunyai 4 orang anak, 2 orang sudah sekolah, dan yang perempuan berumur 11 tahun.
"Yang gadis lah berumur 11 tahun, sudah ada calonnya anak lelaki," ucap Temenggung Lintas.