nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Melirik Keterbatasan Anak Suku Anak Dalam saat Memeriahkan HUT Kemerdekaan

Abimayu, Jurnalis · Minggu 19 Agustus 2018 05:17 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 19 340 1938441 melirik-keterbatasan-anak-suku-anak-dalam-saat-memeriahkan-hut-kemerdekaan-OkLJ3f1ENp.jpg Rombongan anak-anak Suku Anak Dalam ikut karnaval HUT RI (Foto: Abimayu/Okezone)

SAROLANGUN - Perayaan HUT ke 73 RI dengan rangkaian kegiatan seremonial serta lomba seni, budaya dan olahraga yang diikuti para siswa sekolah tingkat dasar, menengah serta anak Paud dan TK menjadi agenda rutin tahunan di setiap daerah.

Begitu pun di Kabupaten Sarolangun-Jambi, Pemerintah Kabupaten Sarolangun, Sabtu (18/8/2018), di mana para siswa ikut bersuka ria dalam perhelatan kemerdekaan ini, dengan pakaian karnaval berpawai ria menyemarakkan momen dalam nuansa kemerdekaan.

Satu hal yang sangat menarik perhatian, dengan usia kemerdekaan yang ke 73 tahun ini, masih terlihat adanya iring-iringan Anak SAD (Suku anak dalam) yang merupakan siswa SD 89 Pulau Lintang Kecamatan Bathin VIII Kabupaten Sarolangun-Jambi berkarnaval dengan pakaian seadanya.

Ini dapat menjadi bukti, bahwa hasrat untuk merasakan keceriaan dan suka cita itu bukan hanya dirasakan oleh anak-anak sekolah umum lainnya yang bersekolah dengan serba kecukupan pakaian, biaya serta fasilitas yang layak.

Rasa untuk gembira dan bahagia tersebut juga dimiliki anak-anak SAD yang tak berkecukupan pakaian dan biaya sekolah, malahan terlihat memakai pakaian sehari-hari yang kelihatan kumal.

Rombongan anak SAD ini didampingi Temenggung Lintas dan Jenang Mustapa yang merupakan kepala kampung dan kepala suku SAD Kecamatan Bathin VIII.

Menurut imformasi yang diperoleh, SDN 89 yang beralamat di Desa Pulau Lintang-Bathin VIII memiliki siswa sekitar 80 orang, dalam mengikuti karnaval (pawai) tidak memakai kostum karnaval seperti siswa sekolah pada umumnya, mereka hanya memakai baju pramuka dan merah putih seragam sekolah dan kebanyakan memakai pakaian sehari hari dan ada yang sempat tanpa memakai alas kaki, namun setelah berjalan sekitar 500 meter dibawakan sendal jepit oleh Jenang Mustapa, yang menjadi pemandu iring-iringan anak SAD itu.

Namun, dengan segala keterbatasan itu, anak-anak dari kelompok suku minoritas yang bedomosili di Kabupaten Sarolangun- Jambi ini, sudah bersekolah, berbeda dengan para orang tua mereka yang tidak mengenyam pelajaran di bangku pendidikan.

"Baru anak kami lah yang sekolah, yang akan menyicip pendidikan, kalau kami belum," kata Jenang Mustapa kepada media ini di tengah barisan karnaval itu.

Ketika ditanya bagaimana anak SAD tersebut berpakaian seragam di sekolah, Jenang Mustapa menyebutkan hanya sebagian yang memiliki seragam.

"Sebagian bae yang lengkap pak, Pramuka, Merah pitih, olah raga dan batik, itu pun tidak semuanya", sebut Jenang Mustapa.

Begitu pun dalam hal spanduk karnaval sebagai pertanda mewakili sekolah, mereka tidak ada. "Spanduk pun kami tak punya, sebab keterbatasan dana itu lah, kami mau pakai spanduk, tapi tidak ada dana", ungkapnya.

Jenang juga mengungkapkan keinginan anak SAD terhadap berbagai jenis olahraga dan seni yang diperlombakan pada perayaan peringatan HUT RI dan perayaan hari besar lainnya, namun terkendala karena tidak punya biaya.

"Kami ada kebudayaan dan seni, dan mau olahraga, cuma untuk biaya kegiatan kami enggak ada dana", lanjutnya.

Jenang Mustapa berharap perhatian Pemerintah dalam hal penyaluran bakat anak SAD dalam olahraga, budaya dan seni, "Kami berharap bakat anak-anak kami tersalur, kalau tidak, balik sekolah anak-anak akan tetap masuk hutan, ke sungai, ada yang pergi sendiri, ada yang ikut bapaknya cari babi", urai Jenang Mustapa.

Penuturan Jenang Mustapa dibenarkan oleh Temenggung Lintas, "Pekerjaan saya berburu lah pak. Dari hari ke hari, balik anak dari sekolah, kami bawa berburu," sebut Temenggung Lintas, yang mengaku mempunyai 4 orang anak, 2 orang sudah sekolah, dan yang perempuan berumur 11 tahun.

"Yang gadis lah berumur 11 tahun, sudah ada calonnya anak lelaki," ucap Temenggung Lintas.

Tentang melanjutkan sekolah anak, Temenggung Lintas secara jujur mengatakan sangat berkeinginan agar anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikan, namun katanya terkendala penghasilan yang tak menentu.

Hingga selesai percakapannya, Temenggung Lintas berharap difasilitasi lahan pertanian oleh Pemerintah, "Kalau biso kami mintak dikasih lahan kebun macam orang dusun tu, nak lah kami", tutup Temenggung.

Seperti barisan karnaval anak sekolah lainnya, saat sampai di rumah dinas Bupati, barisan anak SAD ini juga memberikan penghormatan kepada Bupati dan pejabat pemerintah Kabupaten Sarolangun di tribun kehormatan, dengan gaya mereka.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini