Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Aldi Novel Adilang: Lima Kiat Bertahan Hidup di Tengah Laut

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Rabu, 26 September 2018 |07:36 WIB
Aldi Novel Adilang: Lima Kiat Bertahan Hidup di Tengah Laut
Aldi Novel Adilang bertahan hidup setelah hanyut di lautan selama 49 hari. (EPA/Indonesia Consulate General Osaka)
A
A
A

3. Kenali Bahaya dan Letak Pulau Terdekat

Saat terjebak di tengah laut, kita perlu mengenali hewan apa yang bisa mengancam hidup kita. Di perairan dalam, bahaya terbesar biasanya berupa ikan hiu.

Aldi juga dilaporkan berpapasan dengan ikan pemakan daging itu. "Saya hanya bisa berdoa dan ikan hiu itu pergi," katanya, seperti dilaporkan salah satu surat kabar.

Para penyelam di perairan dalam biasanya melumuri badan mereka dengan cairan pengusir hiu (shark repellent), kata Johan. Tapi jika itu tidak tersedia, ketika Anda bertemu hiu diam dan tetap tenang, sambil mengamati gerakan si hiu.

"Jangan sampai kita melakukan gerakan, seolah-olah gerakan ini mengancam si hiu itu," kata Johan.

4. Tetap Tenang

"Biasanya orang tenggelam itu karena tidak bisa menguasai diri. Bisa jadi karena dia panik, stres, kelelahan, atau tidak punya harapan untuk hidup," ungkap Johan.

Karena itu, penting untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru. Carilah pelampung atau peralatan lain yang bisa digunakan untuk bersandar atau mengaitkan badan.

Cara untuk mengatasi panik, menurut Johan, adalah dengan mengingat bahwa pada dasarnya setiap manusia yang dilempar ke air laut akan terapung.

(Baca Juga : Kisah Aldi bak Film: Sebulan Lebih Hanyut di Laut hingga ke Perairan Guam)

"Itulah yang harus kita jaga. Tetap kuasai, tetap kita timbul ke permukaan dengan kita melihat ke atas dan biarkan saja kaki terbuka, terus tangan mengembang. Kalau kita bisa tidur, kita bisa tiduran. Kalau kita tidak bisa tidur, minimal dari leher ke atas itu tetap timbul di permukaan," kata Johan.

Hal yang tidak kalah penting ialah mengetahui letak pelampung badan, sekoci, dan pintu keluar ketika naik ke kapal.

5. Cari Bantuan

Idealnya, setiap kapal dilengkapi pistol flare atau peralatan komunikasi lainnya yang bisa Anda gunakan untuk mencari pertolongan.

Jika tidak ada, Anda bisa menggunakan bintang sebagai panduan arah. Kalau Anda tidak hafal rasi bintang, setidaknya Anda bisa menentukan arah dengan menggunakan matahari.

"Kalau matahari tenggelam di sebelah kiri kita, berarti arah depan kita adalah utara," kata Johan.

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement