Mardani: Pertarungan Pilpres 2019 Berbasis Big Data

Fahreza Rizky, Jurnalis · Rabu 26 September 2018 05:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 09 26 605 1955634 mardani-pertarungan-pilpres-2019-berbasis-big-data-KbEN4BQzgI.jpg Mardani Ali Sera. (Foto: Heru Haryono/Okezone)

JAKARTA – Mardani Ali Sera, wakil ketua Tim Pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, mengatakan Pilpres 2019 akan menjadi ajang pertarungan memperebutkan pemilih milenial. Menurut dia akan terjadi pertarungan strategi komunikasi melalui media sosial berbasis big data.

"Pilpres 2019 akan menjadi pertarungan pemilih milenial, oleh karena itu pemanfaatan strategi komunikasi melalui social media berbasis big data akan sangat jauh lebih efektif dan optimal selain strategi komunikasi konvensional," kata Mardani, Selasa 25 September 2018.

Pria kelahiran tanah Betawi ini mencontohkan betapa efektifnya pemanfaatan kampanye berbasis big data. "Pilpres AS tahun 2016 misalnya, Donald Trump menyewa jasa Cambridge Analitical yang berhasil mengalahkan Hillary Clinton karena memanfaatkan kebocoran data 50 juta pengguna Facebook dan melakukan micro campaign," tuturnya.

Selanjutnya, politikus PKS ini mengatakan efektifnya pemanfaatan kampanye berbasis big data juga terjadi di Britania Raya. "Kisah kemenangan Kubu Pro Brexit dalam refrendum tahun 2016 di mana Boris Johnson memanfaatkan isu yang sangat spesifik tentang Curry House (Rumah Kari). Setidaknya ada 600 ribu pemilih berlatar belakang IPB (India, Pakistan, dan Bangladesh)," lanjut Mardani.

Lebih jauh inisiator gerakan #2019GantiPresiden ini mengatakan di Indonesia sendiri pemanfaatan big data sudah mulai dimanfaatkan saat Pilkada DKI 2017. "Kampanye melaui social media kian dirasakan pengaruhnya sejak liberalisasi di sektor komunikasi."

Mardani juga menjelaskan bagaimana bisa viral dan kukuhnya tagar 2019 Ganti Presiden menjadi sebuah contoh lain betapa powerfull-nya peranan media sosial, dari sebuah seruan dapat berubah menjadi social movement hampir di seluruh daerah di Indonesia dan juga beberapa negara lain.

"Reach #2019GantiPresiden awal September saja sudah menjangkau 600 juta akun social media," kata Mardani.

Sadar akan hal itu, terang Mardani, Tim Kampanye Nasional Prabowo-Sandi dengan kesadaran akan mengoptimalkan strategi komunikasi melalui sosial media berbasisl big data untuk menjangkau pemilih dengan cerdas dan kukuh menyasar segmen dengan peta yang jelas. "Kita yakin dengan izin Allah #2019GantiPresiden," jelasnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh We Are Social yang bekerja sama dengan Hootsuite menyebutkan bahwa ada 130 juta orang Indonesia yang terbilang aktif di media sosial.

Laporan We Are Social mengungkapkan bahwa total populasi Indonesia mencapai 265,4 juta jiwa, sedangkan pengguna internetnya setengah dari populasi yakni sebesar 132,7 juta.

Bila dilihat dari jumlah pengguna internetnya, maka bisa dibilang seluruh pengguna internet di Indonesia sudah mengakses medsos. We Are Social mengatakan 132,7 juta pengguna internet, 130 juta di antaranya pengguna aktif di medsos dengan penetrasi 49 persen.

Sedangkan dari jumlah perangkat, We Are Social mengatakan unique mobile users menyentuh angka 177,9 juta dengan penetrasi 67 persen.

Fakta lainnya, orang Indonesia rata-rata menghabiskan waktu untuk berselancar di internet dengan berbagai perangkat hingga 8 jam 51 menit. Sementara rata-rata berkecimpung di medsos dengan berbagai perangkat hingga 3 jam 23 menit.

Mengenai kecepatan koneksi internet, We Are Social mengatakan rata-rata kecepatan untuk fixed broadband mencapai 13,79 Mbps dan rata-rata kecepatan untuk mobile broadband mencapai 9,82 Mbps.

Platform medsos yang paling digandrungi oleh orang Indonesia, di antaranya YouTube 43 persen, Facebook 41 persen, WhatsApp 40 persen, Instagram 38 persen, Line 33 persen, BBM 28 persen, Twitter 27 persen, Google+ 25 persen, FB Messenger 24 persen, LinkedIn 16 persen, Skype 15 persen, dan WeChat 14 persen.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini