nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pulang Kampung, Miftahul Jannah Disambut Meriah Warga Aceh

Windy Phagta, Jurnalis · Senin 15 Oktober 2018 16:04 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 15 340 1964298 pulang-kampung-miftahul-jannah-disambut-meriah-warga-aceh-BOg1QevzoA.jpg Miftahul Jannah Tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar (foto: Windy P/Okezone)

BANDA ACEH - Miftahul Jannah Atlet judo Aceh yang didiskualifikasi dari ajang Asian Para Games, karena tetap mempertahankan jilbabnya, pulang kekampung halamannya di Aceh, pada Senin (15/10/2018).

Setibanya di Bandara Sultan Iskandar Muda, Miftah disambut istri Plt Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati beserta rombongan, dan dilakukannya prosesi pengalungan bunga. Miftah tiba di Aceh didampingi kedua orang tuanya, beserta tiga adik dan dua sahabatnya dari perguruan tinggi Pasundan, Bandung.

(Baca Juga: Cerita Miftahul Jannah, Tolak Lepas Hijab hingga Didiskualifikasi dari Asian Para Games)

Miftahul Jannah, Pejudo Indonesia yang Pilih Didiskualifikasi ketimbang Lepas Jilbab 

Miftah mengucapkan terima kasih dan bangga atas sambutan terhadap kepulangannya, “Terima kasih kepada seluruh rakyat Aceh. Dan Bapak-Ibu yang telah menyambut kami dengan sangat baik serta memberikan apresiasi dan dukungan atas perjuangan Miftah selama ini,” ucapnya.

Ke depannya Miftah berencana melakukan latihan untuk persiapan Popda dan Pornas, namun dirinya harus mengubur impiannya untuk dapat bertanding di pentas Internasional karena terbentur aturan penggunaan jilbab.

“Kalau di blind judo tetap masih berlatih persiapan untuk Popda dan Pornas. Tetapi untuk ajang internasional kalau aturannya belum bisa diubah Miftah tidak ikut lagi,” katanya.

Di samping itu, Miftah mengaku dia juga akan mengasah kembali keahliannya di bidang catur yang merupakan hobinya dari sejak kecil.

 

(Baca Juga: Judo Harus Lepas Hijab, Miftahul Jannah Akan Pindah Jadi Atlet Catur)

Sementara itu, istri Plt Gubernur Aceh Dyah Erti Idawati, memberikan semangat bagi Miftah agar tetap memberikan pretasi untuk Aceh dalam event lainnya, dirinya juga mengaku bangga atas pilihan Miftah yang mempertahankan jilbabnya, sebagai jati diri putri Aceh dengan syariat Islam.

“Dalam syariat Islam itu, muslimah memang tidak dibenarkan membuka hijab meski dalam kondisi apa pun. Kami bangga pada Miftah, walaupun tidak bisa mengharumkan nama Indonesia dan Aceh khususnya,” ucap Dyah.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini