nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Koran Sin Po, Media Bersejarah di Indonesia Dibuat Bentuk Digital oleh Monash University

ABC News, Jurnalis · Sabtu 27 Oktober 2018 12:12 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 27 18 1969667 koran-sin-po-media-bersejarah-di-indonesia-dibuat-bentuk-digital-oleh-monash-university-MU8bHCcc2i.jpg Koran Sin Po (Foto: Sastra Wijaya)

JAKARTA - Koran Sin Po, adalah media yang betul-betul mengikuti perjalanan sejarah bangsa Indoneia. Bagi Anda yang tertarik untuk melakukan penelitian mengenai sejarah Indonesia, sekarang akan dipermudah karena dokumentasi koran yang terbit di Jakarta itu tersedia secara digital.

Adalah Monash University di Melbourne yang mendokumentasikan semua koleksi koran Sin Po menjadi digital, dan peluncurannya dilakukan hari Kamis 25 Oktober 2018 di kampus tersebut, di Clayton, sekira 23 km dari pusat kota Melbourne.

Ini adalah untuk pertama kalinya di dunia koleksi yang sebelumnya berbentuk koran tersebut didigitalkan sehingga bisa diakses lebih mudah bagi mereka yang tertarik untuk mempelajari baik dari sisi akademis maupun untuk alasan lain.

Menurut Dr Rheny Pulungan, seorang warga Indonesia yang sekarang bekerja di Perpustakaan Monash University mengatakan proyek untuk mendigitalkan koleksi koran Sin Po dilakukan sejak setahun terakhir.

Selain karena untuk melestarikan informasi yang ada di dalam koran-koran tersebut, Rheny Pulungan mengatakan bahwa selama ini banyak peneliti yang ingin mengakses koran Sin Po harus datang langsung ke Monash.

"Dengan proyek digitalisasi ini, akses terhadap koran Sinpo sebagai bagian dari sejarah akan lebih luas." kata Rheny kepada wartawan ABC Australia Sastra Wijaya.

Koleksi Koran Sin Po di Monash University (Foto: Sastra Sanjaya)

Monash University memang memiliki salah satu koleksi terlengkap di dunia penerbitan dari Indonesia sejak jaman Indonesia belum merdeka, sampai sekarang.

Salah satu universitas lainya Leiden Universitet di Belanda juga banyak memiliki koleksi serupa.

Namun peluncuran proyek digitalisasi Sin Po ini ditampilkan seorang pembicara Dr Tom Hoogervorst dari Universitas Leiden yang merasa sangat terbantu dengan ketersediaaan koleksi Sin Po secara online, karena dia sedang melakukan penelitian mengenai campuran bahasa yang digunakan dalam tulisan-tulisan di Sin Po.

Menurut Hoogervorst, Leiden sendiri sampai sekarang belum bisa melakukan digitalisasi atas koleksi penerbitan yang mereka miliki.

Koran Sin Po merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia karena sebelumnya sudah banyak diberitakan sebagai koran pertama yang menggunakan kata Indonesia untuk menggantikan "Hindia Belanda" kawasan yang dulunya dijajah Belanda, dan kemudian merdeka di tahun 1945.

Koran Sin Po juga merupakan surat kabar pertama yang, pada bulan November 1928, menyiarkan lagu Indonesia Raya gubahan Wage Rudolf Supratman, ketika media lain tidak berani memuat lagu yang kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia tersebut.

Perpustakaan Monash memiliki berita mingguan Sin Po dari bulan April 1923 sampai bulan Desember 1941 dalam bentuk kertas, dan dari bulan Mei sampai 1950 dalam bentuk microfilm walau tidak lengkap.

Sebagian dari koleksi yang ada di Monash juga berasal dari Prof Emeritus Charles Koppel dari Melbourne University, yang banyak melakukan penelitian mengenai etnis Tionghoa di Indonesia sebagai bagian dari kepakarannya mengenai Indonesia.

Melanjutkan tema Indonesia, semalam dihadapan sekitar 150 undangan, Monash University juga meluncurkan sebuah Pusat bernama Herb Feith Indonesian Engagement Center dengan direkturnya adalah Prof Ariel Heryanto.

Pusat ini diharapkan akan menjadi wadah bagi para mahasiswa maupun peneliti di Monash untuk lebih terlibat dan berinteraksi dengan Indonesia.

Dalam sambutannya, Wakil Presiden Senior Monash University Prof Marc Parlange mengatakan bahwa keterlibatan Monash dengan Indonesia sudah berlangsung sejak dibukanya program pengajaran bahasa Indonesia di tahun 1964.

"Monash University merupakan universitas yang paling banyak memiliki mahasiswa asal Indonesia yang belajar di luar negeri di dunia ini." kata Prof Parlange.

Menurut Prof Ariel Heryanto, didirikannya pusat ini adalah agar para peneliti Monash akan lebih banyak bergaul, bekerja sama atau bersekutu dengan Indonesia dalam berbagai bidang.

"Di masa lalu, Indonesia seringkali hanya dijadikan objek studi saja." kata Ariel.

Dalam rencananya di tahun 2019, pusat ini akan melakukan kegiatan seperti melakukan seminat setiap bulan, memberikan kuliah umum dan konferensi di Australia dan Indonesia, dan memberikan pelatihan pengembangan profesional.

Herb Feith diabadikan menjadi nama pusat 'engagement center" karena dianggap menjadi simpul pertalian antara Monash dan Indonesia.

Herb Feith semasa hidupnya pernah menjadi tenaga akademis di Monash yang banyak melakukan penelitian dan kegiatan yang bertalian dengan Indonesia.

(aky)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini