nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Para Arsitek Handal Ditantang Desain Kawasan Kumuh Kali Buntung

Selasa 13 November 2018 11:23 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 13 510 1977078 para-arsitek-handal-ditantang-desain-kawasan-kumuh-kali-buntung-N4kPbkSzlQ.jpg Salah satu kawasan di Kali Buntung yang akan disulap (foto: Istimewa)

YOGYAKARTA - Permasalahan kawasan kumuh yang dialami berbagai kota besar Indonesia ternyata mulai dirasakan wilayah Sleman. Salah satu yang mulai masuk kategori kumuh meski ringan yakni kawasan Kutu Dukuh Sinduadi Mlati Sleman yang berafa di bantaran Kali Buntung.

Kawasan sepanjang 4 kilometer yang berada di sisi barat dan timur Kali Buntung tersebut dinilai cukup kumuh sehingga perlu dilakukan penataan sebagai upaya pencegahan lebih jauh. Muhammad Nurrochmawardi, Kasi Perumahan Formal Dinas PUPKP Kabupaten Sleman mengatakan pihaknya mengakui sedikit terlambat dalam menata kawasan Kali Buntung. Pasalnya, wilayah Kota Yogyakarta yang berbatasan langsung (Karangwaru) sudah berwajah lebih baik pasca dilakukan penataan beberapa waktu lalu.

(Baca Juga: Mahasiswa UGM Diperkosa, LPSK Anggap Bukan Delik Aduan

“Kami sedikit terlambat tapi tetap harus segera dilakukan agar wilayah yang masuk kategori kumuh tersebut berubah lebih baik. Kami mengundang arsitek dari manapun untuk ikut ambil bagian dalam sayembara desain yang dimulai 7 November hingga 7 Desember 2018,” ungkapnya ketika ditemui wartawan di kantornya, Senin (12/11/2018).

Pemkab Sleman menurut Nurrochmawardi mempersiapkan hadiah total Rp 110 juta pada pemenang termasuk nantinya memasukkan desain dalam prioritas Detail Engineering Design (DED). “Penjurian dilaksanakan 13 dan 20 Desember 2018 sekaligus penetapan pemenang. Kami ajak para arsitek yang berminat untuk mendaftar,” sambungnya.

Erlangga Winoto IAI, Ketua Bidang Sayembara IAI DIY yang juga sekretaris panitia menambahkan kali ini para arsitek yang ingin ikut berpartisipasi tak boleh hanya berpatokan pada sisi teknis semata. Pasalnya, penataan kawasan bantaran sungai selalu berhadapan dengan realitas sosial yang mana membutuhkan olah rasa arsitek agar mampu membuat desain aplikatif.

(Baca Juga: Fakta di Balik Bianglala Terbalik)

“Syarat desain bisa diaplikasikan jadi arsitek harus melihat lebih dalam realitas apa yang terjadi di lapangan. Kami targetkan ada 60 desain yang masuk dalam satu bulan ini, dan ternyata animonya cukup baik hingga 12 November ini,” tandasnya.

Sementara Adi Heryadi Koordinator Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Sleman melempar apresiasi atas terselenggaranya sayembara penataan kawasan kumuh tersebut. Menurut dia, saat ini total ada 43 titik kumuh di Sleman dengan luasan mencapai 162,1 hektare yang dikhawatirkan akan terus bertambah apabila tidak ada langkah serius pemerintah daerah.

“Ini usaha yang layak diapresiasi sebagai upaya mencegah tumbuhnya kawasan kumuh di Sleman. Semoga bisa dilakukan utuh hingga wilayah lain di Sleman,” ungkapnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini