nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengungsi Rohingya di Bangladesh Tolak Dipulangkan, Repatriasi Tertunda

Rahman Asmardika, Jurnalis · Jum'at 16 November 2018 10:56 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 16 18 1978619 pengungsi-rohingya-di-bangladesh-gelar-protes-tolak-dipulangkan-repatriasi-tertunda-NSF1Y6UwSR.jpg Foto: Reuters.

COX’S BAZAR – Rencana pemulangan ribuan pengungsi Rohingya dari Bangladesh ke Myanmar kembali tertunda setelah ratusan pengungsi menggelar demonstrasi di kamp pengungsian Bangladesh, menolak repatriasi mereka. Penundaan ini menjadi kemunduran besar baik bagi Bangladesh dan Myanmar yang ingin menyelesaikan salah satu krisis pengungsi terburuk di dunia itu.

Pada Kamis, Bangladesh telah memulai persiapan repatriasi gelombang pertama dengan memulangkan 2.200 pengungsi Rohingya ke Myanmar, namun ada keraguan besar mengenai rencana tersebut. Repatriasi yang telah direncanakan menerima penolakan dan tentangan dari para pengungsi Rohingya di Bangladesh, badan pengungsi PBB, UNHCR, dan organisasi-organisasi kemanusiaan yang khawatir akan keselamatan etnis Rohingya di Myanmar.

BACA JUGA: Daftar Pemulangan Kosong, Pengungsi Rohingya Tolak Repatriasi ke Myanmar

Pihak Myanmar menyalahkan Bangladesh atas penundaan tersebut. Pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri Myanmar, Myint Thu, menyebut Bangladesh lemah dalam menindaklanjuti perencanaan fisik.

"Jujur saja, Bangladesh lemah dalam menindaklanjuti perencanaan fisik," kata sekretaris tetap kementerian luar negeri Myanmar itu dalam sebuah taklimat media.

“Kami akan menerima para pengungsi sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani oleh kedua negara. Apakah mereka kembali atau tidak adalah keputusan mereka sendiri,” tambahnya.

Dhaka telah berjanji untuk tidak memaksa para pengungsi yang tidak ingin kembali ke Myanmar dan telah meminta UNHCR untuk membuat daftar pengungsi yang ingin benar-benar dipulangkan. Komisioner Bantuan dan Repatriasi Pengungsi Bangladesh, Abul Kalam mengatakan, bahwa pemerintahnya telah mempersiapkan segalanya.

“Kami melakukan semua persiapan. Semuanya sudah siap: kamp transit, bus untuk membawanya ke perbatasan, fasilitas medis, ransum selama tiga hari untuk yang kembali, ” kata Kalam sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (16/11/2018).

“Bagaimana mereka bisa mengatakan kami lemah dalam perencanaan fisik? Jika pengungsi Rohingya tidak ingin kembali apa yang bisa kami lakukan? Kami tidak akan mengirim mereka dengan paksa. ”

Kalam menyerukan kepada masyarakat internasional untuk menekan Myanmar agar menerima "beberapa tuntutan logis dan dapat diterima," agar repatriasi bisa dilakukan.

BACA JUGA: PBB Menuntut Pemulangan Warga Rohingya ke Myanmar 'Dibatalkan'

Pada Kamis, para pengungsi Rohingya menggelar demonstrasi di Kamp Pengungsi Unchiprang, di tenggara Bangladesh yang berbatasan dengan Myanmar. Mereka menyatakan penolakannya atas rencana repatriasi dengan beberapa membawa plakat bertuliskan "Kami menginginkan keadilan" dan "Kami tidak akan pernah kembali ke Myanmar tanpa kewarganegaraan kami."

Lebih dari 700 ribu etnis minoritas Rohingya melarikan diri ke Bangladesh menyusul operasi militer militer Myanmar di Provinsi Rakhine tahun lalu. Tentara Myanmar dan warga sipil Budha di Rakhine dilaporkan melakukan kekejaman terhadap etnis Rohingya, melakukan pembantaian dan membakar ratusan desa serta tindakan brutal lainnya sehingga tim penyelidik PBB menyebutnya sebagai sebuah upaya genosida.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini