nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perang di Yaman: 'Bencana Kemanusiaan Terburuk Selama Satu Abad'

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 16 November 2018 15:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 16 18 1978744 perang-di-yaman-bencana-kemanusiaan-terburuk-selama-satu-abad-hJsKGCIWc0.jpg Warga Hodeidah mendaftarkan diri untuk evakuasi setelah kota tersebut digempur pasukan koalisi Arab Saudi. (Foto: EPA)

DALAM kunjungannya ke Yaman, Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia, (WFP), David Beasley, mengeluarkan peringatan bahwa negara itu terancam bencana kemanusiaan terburuk di dunia selama tempo 100 tahun terakhir.

Peringatan pimpinan WFP itu dilandasi data yang menunjukkan jumlah warga yang berada di ambang kelaparan diperkirakan mencapai 12-14 juta jiwa atau hampir 50% dari total penduduk Yaman, negara yang terletak di Jazirah Arab.

Menurut David Beasley, tidak ada jalan lain kecuali mengakhiri perang.

"Kita memerlukan faktor yang paling penting, yaitu kita perlu mengakhiri perang ini.

"Situasinya gawat dan bantuan kemanusiaan yang ada tidak akan pernah cukup untuk mengatasi semua masalah yang dihadapi dengan dengan total penduduk 29 juta jiwa ini, karena kondisi ekonomi yang tidak mampu menyediakan lapangan kerja, tidak tersedia uang tunai, keterbatasan persediaan pangan," katanya dalam kunjungan ke Yaman selama pekan ini.

Cerita mahasiswa Indonesia

Keadaan itu menunjukkan bahwa penduduk Yaman sekarang menghadapi kesulitan yang sangat berat.

"Semua hal itu merupakan penyebab dari bencana kemanusiaan terburuk yang pernah saya saksikan, mungkin terburuk selama 100 tahun terakhir," tambahnya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia, (WFP), David Beasley, kelangkaan pangan memang dialami oleh sebagian warga Yaman.

"Penduduk Yaman kesulitan, karena sejak perang inflasi menjadi hampir sekitar 300%. Bahan makanan sangat mahal," tutur Izzuddin Mufian, mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Tarim, Provinsi Hadramaut.

Kota tempat Izzuddin Mufian, yang juga merupakan ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Yaman itu, belajar berada di bagian selatan, jauh dari wilayah-wilayah perang di Yaman utara. Namun dampaknya juga dirasakan oleh penduduk di Yaman selatan.

"Barang pokoknya di sini gandum. Kalau gandum dan beras ada, tetapi yang lain-lain hilang dari pasar, seperti LGP sudah sejak satu bulan tidak ada," paparnya kepada wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Sebagai ganti bahan bakar gas, warga beralih ke bahan bakar tradisional.

"Warga berinisiatif mengambil kayu bakar. Kalau tiba-tiba harga ayam melonjak tajam, maka mereka mengambil bahan makanan yang lain," kata Izzuddin Mufian.

Ditambahkan dampak perang juga dirasakan oleh mahasiswa Yaman sebab kiriman uang dari orang tua berhenti, sementara mereka tidak bisa pulang kampung karena alasan keamanan.

Menurutnya, keperluan makan di kampus tidak mengalami kendala berarti karena disediakan oleh pengelola kampus. "Hanya saja pasokan BBM berkurang dan listrik kadang-kadang mati."

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa sekitar 1.800 mahasiswa dari Indonesia kini belajar di Yaman, sebagian mendapat beasiswa dari universitas-universitas di negara itu.

Yaman 'proksi Arab Saudi dan Iran

Perang di Yaman telah berlangsung selama bertahun-tahun, antara pemberontak Houthi melawan pemerintah.

Perang memanas tahun 2015 setelah koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan operasi militer di Yaman untuk membantu pemerintah memukul mundur pemberontak dari ibu kota, Sanaa, dan sejumlah provinsi lain yang sempat dikuasai pemberontak Houthi.

Arab Saudi, yang berbatasan dengan Yaman, khawatir akan penyebaran pengaruh Iran yang mendukung pemberontak Houthi. Dalam perkembangannya Yaman disebut sebagai arena proksi antara Iran dan Arab Saudi.

Jumlah korban tewas dalam perang di Yaman diperkirakan melebihi angka 10.000 jiwa, belasan ribu lainnya mengalami luka.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini