nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wahid Institute Nilai Pelaporan Grace Natalie ke Bareskrim Polri Berlebihan

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Minggu 18 November 2018 16:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 18 337 1979471 wahid-institute-nilai-pelaporan-grace-natalie-ke-bareskrim-polri-dianggap-berlebihan-Zu0nlQVGC1.jpg Ketua Umum PSI Grace Natalie (foto: Fakhri/Okezone)

JAKARTA - Peneliti senior The Wahid Institute Rumadi Ahmad tidak mempermasalahkan penyataan yang disampaikan Ketum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie yang menolak Perda Injil dan Syari’ah karena hukum di Indonesia mesti universal berlaku untuk semua agama, tidak parsial.

Bahkan, dia mengaku heran dengan langkah hukum yang diambil oleh Eggy Sudjana yang melaporkan Grace ke Bareskrim Polri karena dianggap penolakan tersebut sebagai bentuk penista agama.

(Baca Juga: Tolak Perda Syariah, Grace Natalie Dilaporkan ke Bareskrim Polri) 

"Berlebihan itu. Pernyataan kaya gitu seharusnya dijadikan sebagai diskursus publik saja. Sama artinya membuka berbagai macam dirkursus terkait adanya perda itu, terlepas diterima atau ditolak. Jangan dikit-dikit polisi, dikit-dikit polisi, " kata Rumadi saat dihubungi, Minggu (18/11/2018).

Eggi Sudjana laporkan Grace Natalie ke Bareskrim (Foto: Putera/Okezone)Eggi Sudjana laporkan Grace Natalie ke Bareskrim (Foto: Putera/Okezone) 

Dia mengaku khawatir dengan banyak kasus pelaporan di tahun politik. Sebab, Rumadi mengungkapkan, politisi yang cepat melaporkan seseorang ke polisi saat berbeda pandangan akan berbahaya saat memiliki kekuasaan.

"Menunjukkan orang seperti itu jika mempunyai kekuasaan akan membungkam kalau ada perbedaan. Orang kaya gini kalau punya kekuasaan bahaya," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan Okezone, Ketua Umum PSI Grace Natalie menyampaikan sikap penolakannya terhadap perda yang berlandaskan agama termasuk Perda Syariah dalam acara ulang tahun keempat partainya di ICE BSD, Tangerang, pada 11 November 2018 lalu.

Grace berkata partainya tidak akan pernah mendukung perda yang berlandaskan agama, seperti Perda Syariah dan Perda Injil.

"PSI akan mencegah lahirnya ketidakadilan, diskriminasi, dan seluruh tindakan intoleransi di negeri ini. PSI tidak akan pernah mendukung perda-perda Injil atau perda-perda syariah," ucap Grace.

Pernyataan tersebut dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh pengacara Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) Eggi Sudjana, lantaran pernyataan Grace soal penolakan terhadap Perda Syariah dianggap sebagai penodaan agama.

Menurut Eggy, kalimat yang dilontarkan Grace lebih parah dari apa yang telah diungkapkan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau Ahok.

(Baca Juga: Tolak Perda Syariah, Grace Natalie Dilaporkan ke Bareskrim Polri) 

"Jadi begini penjelasannya. Ada tiga hal. Satu, Grace menyatakan Perda itu menimbulkan ketidak adilan. Kedua, diksriminatif, dan ketiga, intoleransi. Menurut hemat saya, secara ilmu hukum ini lebih parah dari Ahok. Ahok itu cuma mengatakan jangan mau dibohongi oleh Al Maidah Ayat 51. Satu saja poin dia, nah kalo ini tiga poin," papar Eggi.

Bareskrim Polri menerima laporan tersebut dengan dengan nomor LP/B/1502/XI/2018/BARESKRIM tanggal 16 November 2018. Dalam hal ini, Grace terancam dikenakan Pasal 156 (A) KUHP, yakni melakukan pidana pernyataan permusuhan dan kebencian terhadap terhadap suatu golongan. (fid)

(sal)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini